Siang ini pelangi sempurna menampakkan
keindahan tujuh gradasi warnanya, langit pun terlihat indah dan mempesona
menghiasi siang menuju senja yang terang dipantai yang selalu ramai dikunjungi
para insan yang ingin menikmati sunset yang indah. Semua pasang mata memuji
kecantikan ciptaan Tuhan yang satu ini, tapi tidak dengan gadis remaja yang
duduk sendiri diantara riuhnya beberapa kelompok remaja lain.
Gadis
berjilbab biru muda yang duduk diantara pasir tanpa alas itu menerawang jauh
menembus tujuh warna transparan pelangi yang terukir diujung pantai ini. Kerudungnya
berkibar diterpa angin laut, bibir kecilnya tak bergerak sedikitpun, jemari tangannya
memainkan pasir disekitarnya tanpa merasakan halus pasir tersebut, dan matanya
menatap kosong kearah matahari yang beberapa jam lagi akan tenggelam.
Balqis, gadis remaja yang hampir
menginjak dewasa itu berumur 16th. Dia salah satu dari puluhan penghuni pondok
pesantren putri yang terletak tak jauh dari pesisir pantai ini. Balqis selalu
menyempatkan datang ke pantai, dia sangat menyukai laut, menyukai bisikan
lembut angin yang menerpa raut ayu wajahnya, meskipun kadang dia harus melawan
kenangan buruknya. Kenangan yang membuatnya menjadi sosok pendiam dan kenangan
akan hal bodoh yang telah dia lakukan. Siang ini dia mengunjungi pantai itu
sendiri, duduk dibawah pohon yang meneduhkannya serta mencoba menghilangkan
penat yang menyiksa pikirannya.
Balqis mencoba untuk tidak mengingat
kenangan indah bersama keluarganya, karena jika dia mengingatnya akan selalu
ada air mata kesedihan yang pecah menjadi sebuah tangis. Balqis hanya selalu
menyebut kedua orangtuanya dalam do.a, dalam setiap sujud – sujudnya menghadap
Sang Kuasa. Dia menghusyukan diri menghadap-Nya.