Aku
mencintai, dia tidak.
Dia
mencintaiku, aku tidak.
Aku dan
dia saling mencintai.
Sebab
cinta adalah usaha menyembuhkan yang patah, sekaligus sebuah alasan untuk
mematahkan.
Aku
menunggu, dia tak sadar.
Aku
pergi, dia menahanku.
Barangkali
menunggu lalu pergi membuat seseorang sadar, bahwa dibalik kata menunggu selalu
ada ‘mematahkan’ dan ‘Aku mencintai, dia tidak’ yang harus
diselesaikan dengan ‘mari berjalan
bersama, barangkali saat senja nanti kita bisa saling mencintai’, karena
dengan begitu yang patah akan saling menyembuhkan.
Sebab
cinta tak akan jauh dari dua perumpamaan di atas. Karena resiko mencintai
seseorang adalah berani terluka. Dan resiko dicintai adalah berani membuat luka.
Itulah
salah satu bahagianya kamu tercipta menjadi manusia, kamu bisa menentukan
pilihan. Meskipun pada akhirnya pilihan itu yang akan menentukan bahagia atau
tidaknya keputusanmu nanti. Satu dari sekian banyak kegelisahan yang akan
membuatmu menentukan pilihan. Antara dicintai dan mencintai, antara menunggu
dan ditunggu, dan antara patah atau mematahkan.