Selasa, 08 Agustus 2017

Kisah yang Salah

Aku pernah terjatuh dalam – dalam di hati seseorang karena terlalu percaya
Aku pernah tertusuk karena terlalu jujur pada perasaanku sendiri
Aku pernah mencintai orang yang sama berkali – kali, meskipun akhirnya gagal.
Dan, ,
Aku pernah merasakan jatuh cinta berulang kali dengan orang yang berbeda, namun semuanya berlalu begitu cepat,
Seperti saat ini.
Bertemu denganmu adalah hal yang menyenangkan,
Hingga aku lupa, egoku berjalan terlalu dalam.
Hari – hari berlalu, namun waktu terus membeku.
Semi yang baru kita mulai, namun kemarau yang ku rasakan.
Aku coba menjalani, dan mencoba lupa bahwa aku tak menginginkanmu,
Percuma saja, rasa ini enggan berpihak.
Di luar sana segala lika – liku percintaan terlihat semakin rumit,
Saat kau datang dengan tawamu, itu membiusku.

Senin, 05 Juni 2017

Perpisahan Termanis


Tak ada yang benar – benar datang untuk menetap,
Pun tak ada yang benar – benar beranjak untuk pergi.
Datang, kemudian pergi.
Lalu pergi namun datang (lagi).
Entah dengan seseorang yang sama atau yang baru,
Namun perpisahan hanyalah jalan untuk memulai kembali
Untuk sesuatu yang sementara kita tinggalkan, atau. .
Sesuatu yang baru saja akan kita temukan.
Bagian termanis dari perpisahan adalah ditemukan kembali,
oleh seseorang yang sama ataupun seseorang yang baru.
Sebab menemukan tak selalu menyenangkan.
Mungkin saja perpisahan membawamu untuk menemukanmu lagi apa yang telah kamu tinggalkan atau meninggalkanmu dan memulainya lagi dari awal.
Atau bahkan. .
Menemukanmu dengan seseorang yang telah meninggalkan atau ditinggalkan olehmu, namun tak ada harapan untuk memulai kembali.
Sebab ia telah bahagia dengan seseorang yang lain.

Selasa, 14 Maret 2017

Hujan bulan Maret, menggelegar.


Di Kota-ku sekarang, hujan masih berisik.
Ia menggelegar seakan berteriak, mencari entah apa.
Banyak yang telah berdo’a, memohon hujan untuk mereda.
Dan Tuhan mendengarnya, Ia bahkan menjawab do’a – do’a itu.
‘Iya, boleh’ lalu Tuhan menghentikan hujan.
‘Iya, nanti’ hujan terus merintik, Tuhan masih mendengar.
‘Iya, tapi yang lain’ Tuhan menggantikan hujan menjadi gerimis, manis.
Sebab jawaban do’a selalu ‘Iya’. Hujan menggelegar, lagi.
Ia menjadikan gugur lebih lama untuk menunggu.
Namun juga bersiap menjadikan semi yang indah.
Karena hidup ini sebuah labirin raksaksa. Setiap jalan akan berbeda – beda.
Seperti mesin waktu yang di kendalikan penciptanya.
Ia terus berputar, lamban, sedang lalu cepat.
Tak perlu merasa menjadi yang paling bersedih atas apapun, sebab takdir itu selalu adil.
Ia tak pernah salah menentukan.
Jika hujan mematahkan ranting – ranting yang tak bisa bertahan lagi.
Namun takdir membuat ranting – ranting yang patah itu untuk tumbuh lagi.
Mungkin tak hanya hujan, bahkan petir pun akan siap menyambar berkali – kali.
Namun lagi, takdir tak pernah berlaku tak adil.
Sebab pencipta takdir adalah sebaik – baiknya kebaikan.
Hujan mereda.

Senin, 13 Maret 2017

Tentang Berpisah.



Ada yang perlu disadari. Seperti,
Dunia yang memiliki dua kebalikan, hitam dan putih.
Karena abu – abu tak begitu jelas untuk di terjemahkan.
Antara iya dan tidak. Sebab ‘mungkin’ tak akan dihargai.
Barangkali Tuhan menciptakan angka 2 untuk sebuah perbandingan.
Agar kau selalu menghargai waktu, yang terus berjalan.
Antara hidup dan mati.
Seperti  kebaikan dan kejahatan.
Layaknya bahagia dan sedih.
Atau cinta dan benci.
Dan bahkan temu dan perpisahan.
Tentang berpisah.

Rabu, 08 Maret 2017

Cinta adalah Kata



Cinta adalah sebuah kata,
Seperti kepingan – kepingan mozaik yang coba ku susun menjadi sebuah kalimat.
Hingga akhirnya nanti akan menjadi rangkaian paragraf yang penuh makna.
Adapun mencintaimu seperti aku menyusun tiap – tiap mozaik tersebut.
Akan ada koma yang membuatku berhenti sejenak, untuk sekedar berfikir lalu memulai lagi. Bukan karena aku lelah merangkai kata, namun aku mencari alasan mengapa aku menyusun kata tersebut. Sebut saja, kepercayaan.
Ada titik dimana aku akan berhenti lebih lama, dan menyusun kata demi kata agar setiap kalimat mempunyai arti yang bisa kau pahami saat  nanti kau mulai membacanya.
Kadang akan ada tanda tanya, yang akan memunculkan sebuah pertanyaan atas apa, kenapa, siapa, kapan dan bagaimana caraku menyusun kata untukmu. Namun juga akan selalu ada jawab atas tanya itu. Kau akan memahaminya nanti, seperti kau akan memahamiku dikemudian hari. Perasaanmu turut andil dalam hal ini.

Selasa, 07 Februari 2017

Cinta, Tak Berkesudahan



Aku mencintai, dia tidak.
Dia mencintaiku, aku tidak.
Aku dan dia saling mencintai.
Sebab cinta adalah usaha menyembuhkan yang patah, sekaligus sebuah alasan untuk mematahkan.
Aku menunggu, dia tak sadar.
Aku pergi, dia menahanku.
Barangkali menunggu lalu pergi membuat seseorang sadar, bahwa dibalik kata menunggu selalu ada ‘mematahkan’ dan ‘Aku mencintai, dia tidak’ yang harus diselesaikan dengan ‘mari berjalan bersama, barangkali saat senja nanti kita bisa saling mencintai’, karena dengan begitu yang patah akan saling menyembuhkan.
Sebab cinta tak akan jauh dari dua perumpamaan di atas. Karena resiko mencintai seseorang adalah berani terluka. Dan resiko dicintai adalah berani membuat luka.
Itulah salah satu bahagianya kamu tercipta menjadi manusia, kamu bisa menentukan pilihan. Meskipun pada akhirnya pilihan itu yang akan menentukan bahagia atau tidaknya keputusanmu nanti. Satu dari sekian banyak kegelisahan yang akan membuatmu menentukan pilihan. Antara dicintai dan mencintai, antara menunggu dan ditunggu, dan antara patah atau mematahkan.

Translate