Cinta adalah
sebuah kata,
Seperti
kepingan – kepingan mozaik yang coba ku susun menjadi sebuah kalimat.
Hingga
akhirnya nanti akan menjadi rangkaian paragraf yang penuh makna.
Adapun
mencintaimu seperti aku menyusun tiap – tiap mozaik tersebut.
Akan ada koma
yang membuatku berhenti sejenak, untuk sekedar berfikir lalu memulai lagi. Bukan
karena aku lelah merangkai kata, namun aku mencari alasan mengapa aku menyusun kata tersebut. Sebut saja, kepercayaan.
Ada titik
dimana aku akan berhenti lebih lama, dan menyusun kata demi kata agar setiap kalimat
mempunyai arti yang bisa kau pahami saat nanti kau mulai membacanya.
Kadang akan
ada tanda tanya, yang akan memunculkan sebuah pertanyaan atas apa,
kenapa, siapa, kapan dan bagaimana caraku menyusun kata untukmu. Namun juga
akan selalu ada jawab atas tanya itu. Kau akan memahaminya nanti, seperti kau
akan memahamiku dikemudian hari. Perasaanmu turut andil dalam hal ini.
Tak hanya
itu, aku juga menuliskan tanda seru ketika aku akan menegaskan suatu
hal, hanya agar kalimat itu terbaca jelas dan terangkum sesuai maknanya.
Kadang juga
akan ku sertakan sebuah garis miring agar apa yang tak kau mengerti
dalam setiap kata yang akan ku rangkai untuk bisa kau pertimbangkan.
Serta akan ada
titik dua dimana akan ada beberapa kepingan - kepingan sebagai syarat untukmu ketika kau
telah bersedia untuk benar – benar mau membacanya sampai akhir. Memahamiku.
Dan juga Tanda kutip yang akan mengutip tentang
bagaimana pun keadaanku atau keadaanmu, akan ku coba tetap merangkai kata – kata
demi menjadi sebuah kalimat yang kemudian akan menjadi paragraf yang indah, yang akan kau baca dan pahami. Hanya kau saja.
Dan jika
semua tanda – tanda penting itu telah ku selesaikan, akan ada yang lebih pasti
dari setiap tanda tersebut. Yaitu, .
Jeda.
Karena
setiap kata yang ku rangkai tanpa jeda tak akan punyai makna,
Tak akan ada
yang tersirat lalu tersampaikan kepadamu dengan jelas.
Hanya akan ada
ke-rancuan kata yang tak kau pahami. Perasaan yang absurd.
Begitupun
dengan mencintaimu, akan selalu ada jeda agar kau paham dan mengerti makna yang
tersiratkan olehku. Dan akan ada jeda agar aku bisa mengetahui bahwa kau atau
bukan kau-lah yang Tuhan hadirkan untuk membaca kata – kataku sampai akhir.
Iya,
mencintaimupun butuh jeda.
Mulailah terbiasa
dengan jeda - jeda itu, karena aku telah banyak menggunjingkanmu dengan
Tuhan-ku agar setiap jeda itu bisa kau mengerti, dan tetap kau-lah kata kata yang ingin aku selesaikan hingga akhir, menjadi
sebuah cerita yang indah. Berdua, bersamamu saja.
Namun jika
nanti kau temukan jeda yang panjang sesudah titik dan aku tak melanjutkan
meyusun kata – kata yang belum seselai, jangan salahkan aku atau salahkan dirimu sendiri.
Karena mungkin saja
Tuhan telah memilihkan seseorang untukmu untuk membuatkan cerita yang lebih
indah daripada ceritaku, begitupun denganku. Mungkin Tuhan telah memilih seseorang yang bisa
lebih memahami dan membbaca setiap jeda tiap kata –kataku.
Percayalah,
Tuhan selalu andil dalam hal ini. Dan Ia tak akan pernah salah untuk memilih
yang terbaik untuk kita.
Dalam kisah ini, setidaknya aku pernah
berusaha untuk membuat paragraf yang indah untukmu, begitupun denganmu yang
telah berusaha untuk memahamiku. Meskipun pada akhirnya, aku dan kamu tak berada dalam satu cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar