Rabu, 08 Maret 2017

Cinta adalah Kata



Cinta adalah sebuah kata,
Seperti kepingan – kepingan mozaik yang coba ku susun menjadi sebuah kalimat.
Hingga akhirnya nanti akan menjadi rangkaian paragraf yang penuh makna.
Adapun mencintaimu seperti aku menyusun tiap – tiap mozaik tersebut.
Akan ada koma yang membuatku berhenti sejenak, untuk sekedar berfikir lalu memulai lagi. Bukan karena aku lelah merangkai kata, namun aku mencari alasan mengapa aku menyusun kata tersebut. Sebut saja, kepercayaan.
Ada titik dimana aku akan berhenti lebih lama, dan menyusun kata demi kata agar setiap kalimat mempunyai arti yang bisa kau pahami saat  nanti kau mulai membacanya.
Kadang akan ada tanda tanya, yang akan memunculkan sebuah pertanyaan atas apa, kenapa, siapa, kapan dan bagaimana caraku menyusun kata untukmu. Namun juga akan selalu ada jawab atas tanya itu. Kau akan memahaminya nanti, seperti kau akan memahamiku dikemudian hari. Perasaanmu turut andil dalam hal ini.

Tak hanya itu, aku juga menuliskan tanda seru ketika aku akan menegaskan suatu hal, hanya agar kalimat itu terbaca jelas dan terangkum sesuai maknanya.
Kadang juga akan ku sertakan sebuah garis miring agar apa yang tak kau mengerti dalam setiap kata yang akan ku rangkai untuk bisa kau pertimbangkan.
Serta akan ada titik dua dimana akan ada beberapa kepingan - kepingan sebagai syarat untukmu ketika kau telah bersedia untuk benar – benar mau membacanya sampai akhir. Memahamiku.
Dan juga Tanda kutip yang akan mengutip tentang bagaimana pun keadaanku atau keadaanmu, akan ku coba tetap merangkai kata – kata demi menjadi sebuah kalimat yang kemudian akan menjadi paragraf  yang indah, yang akan kau baca dan pahami. Hanya kau saja.
Dan jika semua tanda – tanda penting itu telah ku selesaikan, akan ada yang lebih pasti dari setiap tanda tersebut. Yaitu, .
Jeda.
Karena setiap kata yang ku rangkai tanpa jeda tak akan punyai makna,
Tak akan ada yang tersirat lalu tersampaikan kepadamu dengan jelas.
Hanya akan ada ke-rancuan kata yang tak kau pahami. Perasaan yang absurd.
Begitupun dengan mencintaimu, akan selalu ada jeda agar kau paham dan mengerti makna yang tersiratkan olehku. Dan akan ada jeda agar aku bisa mengetahui bahwa kau atau bukan kau-lah yang Tuhan hadirkan untuk membaca kata – kataku sampai akhir.
Iya, mencintaimupun butuh jeda.
Mulailah terbiasa dengan jeda - jeda itu, karena aku telah banyak menggunjingkanmu dengan Tuhan-ku agar setiap jeda itu bisa kau mengerti,  dan tetap kau-lah kata kata yang ingin aku selesaikan hingga akhir, menjadi sebuah cerita yang indah. Berdua, bersamamu saja.
Namun jika nanti kau temukan jeda yang panjang sesudah titik dan aku tak melanjutkan meyusun kata – kata yang belum seselai, jangan salahkan aku atau salahkan dirimu sendiri.
Karena mungkin saja Tuhan telah memilihkan seseorang untukmu untuk membuatkan cerita yang lebih indah daripada ceritaku, begitupun denganku. Mungkin Tuhan telah memilih seseorang yang bisa lebih memahami dan membbaca setiap jeda tiap kata –kataku.
Percayalah, Tuhan selalu andil dalam hal ini. Dan Ia tak akan pernah salah untuk memilih yang terbaik untuk kita.
Dalam kisah ini, setidaknya aku pernah berusaha untuk membuat paragraf yang indah untukmu, begitupun denganmu yang telah berusaha untuk memahamiku. Meskipun pada akhirnya, aku dan kamu tak berada dalam satu cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate