Selasa, 14 Maret 2017

Hujan bulan Maret, menggelegar.


Di Kota-ku sekarang, hujan masih berisik.
Ia menggelegar seakan berteriak, mencari entah apa.
Banyak yang telah berdo’a, memohon hujan untuk mereda.
Dan Tuhan mendengarnya, Ia bahkan menjawab do’a – do’a itu.
‘Iya, boleh’ lalu Tuhan menghentikan hujan.
‘Iya, nanti’ hujan terus merintik, Tuhan masih mendengar.
‘Iya, tapi yang lain’ Tuhan menggantikan hujan menjadi gerimis, manis.
Sebab jawaban do’a selalu ‘Iya’. Hujan menggelegar, lagi.
Ia menjadikan gugur lebih lama untuk menunggu.
Namun juga bersiap menjadikan semi yang indah.
Karena hidup ini sebuah labirin raksaksa. Setiap jalan akan berbeda – beda.
Seperti mesin waktu yang di kendalikan penciptanya.
Ia terus berputar, lamban, sedang lalu cepat.
Tak perlu merasa menjadi yang paling bersedih atas apapun, sebab takdir itu selalu adil.
Ia tak pernah salah menentukan.
Jika hujan mematahkan ranting – ranting yang tak bisa bertahan lagi.
Namun takdir membuat ranting – ranting yang patah itu untuk tumbuh lagi.
Mungkin tak hanya hujan, bahkan petir pun akan siap menyambar berkali – kali.
Namun lagi, takdir tak pernah berlaku tak adil.
Sebab pencipta takdir adalah sebaik – baiknya kebaikan.
Hujan mereda.

Senin, 13 Maret 2017

Tentang Berpisah.



Ada yang perlu disadari. Seperti,
Dunia yang memiliki dua kebalikan, hitam dan putih.
Karena abu – abu tak begitu jelas untuk di terjemahkan.
Antara iya dan tidak. Sebab ‘mungkin’ tak akan dihargai.
Barangkali Tuhan menciptakan angka 2 untuk sebuah perbandingan.
Agar kau selalu menghargai waktu, yang terus berjalan.
Antara hidup dan mati.
Seperti  kebaikan dan kejahatan.
Layaknya bahagia dan sedih.
Atau cinta dan benci.
Dan bahkan temu dan perpisahan.
Tentang berpisah.

Rabu, 08 Maret 2017

Cinta adalah Kata



Cinta adalah sebuah kata,
Seperti kepingan – kepingan mozaik yang coba ku susun menjadi sebuah kalimat.
Hingga akhirnya nanti akan menjadi rangkaian paragraf yang penuh makna.
Adapun mencintaimu seperti aku menyusun tiap – tiap mozaik tersebut.
Akan ada koma yang membuatku berhenti sejenak, untuk sekedar berfikir lalu memulai lagi. Bukan karena aku lelah merangkai kata, namun aku mencari alasan mengapa aku menyusun kata tersebut. Sebut saja, kepercayaan.
Ada titik dimana aku akan berhenti lebih lama, dan menyusun kata demi kata agar setiap kalimat mempunyai arti yang bisa kau pahami saat  nanti kau mulai membacanya.
Kadang akan ada tanda tanya, yang akan memunculkan sebuah pertanyaan atas apa, kenapa, siapa, kapan dan bagaimana caraku menyusun kata untukmu. Namun juga akan selalu ada jawab atas tanya itu. Kau akan memahaminya nanti, seperti kau akan memahamiku dikemudian hari. Perasaanmu turut andil dalam hal ini.

Translate