Di Kota-ku sekarang, hujan masih berisik.
Ia menggelegar seakan berteriak, mencari
entah apa.
Banyak yang telah berdo’a, memohon hujan
untuk mereda.
Dan Tuhan mendengarnya, Ia bahkan menjawab
do’a – do’a itu.
‘Iya, boleh’ lalu Tuhan menghentikan hujan.
‘Iya, nanti’ hujan terus merintik, Tuhan
masih mendengar.
‘Iya, tapi yang lain’ Tuhan menggantikan
hujan menjadi gerimis, manis.
Sebab jawaban do’a selalu ‘Iya’. Hujan
menggelegar, lagi.
Ia menjadikan gugur lebih lama untuk menunggu.
Namun juga bersiap menjadikan semi yang
indah.
Karena hidup ini sebuah labirin raksaksa.
Setiap jalan akan berbeda – beda.
Seperti mesin waktu yang di kendalikan
penciptanya.
Ia terus berputar, lamban, sedang lalu cepat.
Tak perlu merasa menjadi yang paling bersedih
atas apapun, sebab takdir itu selalu adil.
Ia tak pernah salah menentukan.
Jika hujan mematahkan ranting – ranting yang
tak bisa bertahan lagi.
Namun takdir membuat ranting – ranting yang
patah itu untuk tumbuh lagi.
Mungkin tak hanya hujan, bahkan petir pun
akan siap menyambar berkali – kali.
Namun lagi, takdir tak pernah berlaku tak
adil.
Sebab pencipta takdir adalah sebaik – baiknya
kebaikan.
Hujan mereda.