Sabtu, 31 Desember 2016

DESEMBE(R)AIN



Last story in page 366 of 366.
Senja kali ini berbeda, ia tak menjingga cerah tapi juga tak pudar. Ia hadir di antara rintik hujan yang enggan berhenti sejak kedatangannya. Meskipun warna langit kelabu membuatnya kedinginan dan basah, tapi ia tetap hadir dan meninggalkan aroma manis romantis seperti senja sebelumnya. Barangkali Tuhan menjadikan senja sebagai wujud mahluk setia, satu dari banyaknya ciptaan-Nya yang menepati janji kehadiran meski mendung mencoba menghalangi. Jadi tak heran jika semua yang melihatnya akan jatuh cinta.

Senin, 12 Desember 2016

Aku merindukanmu, dalam waktu yang lama. .


Bisakah kau berhenti melarikan diri dariku, sebentar saja.
aku hanya ingin melihat matamu.
Karena entah mengapa aku begitu merindukanmu,
mungkin kau berfikir : bagaimana mungkin aku masih bisa merindukanmu setelah luka yang ku goreskan sangat dalam dan membekas.
Entahlah. .
Bahkan aku rasa aku masih sangat menginginkanmu, dan ingin mengobati luka itu.

  Bisakah kau melihatku sebentar ?
Aku rindu ketika kau memperhatikanku,
aku rindu kalimat - kalimat sederhanamu,
aku rindu menunggu musim untuk bertemu denganmu
aku rindu bercerita padamu tentang bagaimana aku menghabiskan hariku untuk merindukanmu,
aku rindu bagaimana jarak dan waktu membuat kita tak saling sapa,
aku rindu dirindukan olehmu, dan aku rindu merindukanmu seperti dulu.

Kamis, 01 Desember 2016

Desember(ku) !

Selamat datang Desember, aku tak ingin menangis lagi.
Meskipun matahari(ku) mulai meredup tanda sang penghujan akan segera tiba.

Selamat datang Desember, entah kamu atau aku yang akan memilih.
Tapi aku akan tetap berjalan (menuju hatimu) dan menetap disana.

Aku tak tahu kenapa aku diciptakan di bulan Desember.
Barangkali agar aku bisa menjadi akhir dari segala sesuatu.
Seperti mungkin akhir dari pencarian seorang pangeran dan menikmati hujan bulan Desember bersamanya.

Aku ingin menghirup aroma embun pagi yang membasuh dandelion pada awal Desember dan wanginya khas tanah basah sisa hujan, serta menari dengan bunga bulu putih ilalang yang bermekaran tertiup lembutnya angin.

Dan aku juga ingin menikmati senja di akhir bulan Desember bersamamu dengan siluet romantisnya, serta percikan kembang api yang menandakan akhir musim sekaligus awal musim selanjutnya.

Selamat dating bulan Desember ..

Jadi, cerita seperti apa yang telah kau siapkan untukku di-Desember-ku musim ini ?


Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,Di bulan desemberSampai nanti ketika hujan tak lagiMeneteskan duka meretas lukaSampai hujan memulihkan luka- EfekRumahkaca_DESEMBER

Jumat, 11 November 2016

Paragraf Rindu dalam Sepucuk Surat.



“ Andai saja, waktu bisa berdamai
Dan segala keterbatasanku
Tentu,
Bisa berbagi kebahagiaan diharimu ini.”
‘MISS YOU.’ ( - darimu, untukku )

            Aku menyebutnya jarak, yang memisahkan kita berdasarkan ruang. Kadang juga keadaan, atau sekedar sapaan, dan bahkan juga waktu. Tak jarang, jarak juga membuat kita sesak dngan rindu yang tak berujung temu.
Aku masih disini, diruang yang terasa hampa tanta hadirmu (dihariku) saat kubaca ulang sepucuk surat darimu dan menemukan paragraph indah itu diakhir suratmu. Bahkan jika aku harus menutup mata, aku hafal semua kalimat itu. Dan membayangkan hadirmu disampingku, tapi lagi. Jarak membuatnya hanya sebatas imajinasi.
            Mungkin saja benar, salah satu hal yang paling dibenci manusia adalah menunggu. Entah itu pasti atau tidak, tapi menunggu memang sangat membosankan. Namun bersamamu, menunggumu membuatku belajar satuhal. Bahwa menunggu seseorang yang kita cintai sekaligus mencintai kita adalah satu hal yang menyenangkan.
            Sejak memulai cerita ini bersamamu, jangankan menunggu hadirmu. Menunggu hatimu melihat kearah hatikupun sudah menjadi satu hal yang sejak dulu ku perjuangkan dan masih menjadi satu hal menyenangkan yang membuatku bahagia sejauh ini. Bersamamu. Berbagi segala rasa.

Rabu, 14 September 2016

Mungkin Juga Aku Begitu, Jatuh Cinta Padamu ?

Perasaan adalah pengelana waktu yang tak bisa kita kendalikan. Sebahagia atau setidak menyenangkannya perasaan itu hadir, ia akan tetap datang dan pergi sesukanya atas dasar waktu. Ya, siapa yang bisa mengelak bahwa waktu seperti layaknya Tuhan yang menguasai dunia. Dan bukan ketidak segajaan jika Tuhan menciptakan waktu agar kita bisa menghargai setiap detik yang Tuhan ciptakan atas makhluknya didunia ini.
Sama seperti perasaanku, perasaan tentangmu tak mampu aku buang begitu saja. Bahkan ketika aku tahu bahwa awalnya ini bukanlah perasaan yang aku mau. Perasaan yang mungkin saja salah ketika aku sedang menanti seseorang dan tahu bahwa seharusnya aku tak memiliki perasaan aneh seperti ini bahkan ketika aku masih dengan jelas mengingat bagaimana kau meninggalkan masa lalumu yang berakhir dengan ketidakadilan sepihak menurutku. Aku tahu bahwa kau telah membuat musim yang sedang bersemi dengan mengubahnya menjadi musim gugur yang menggugurkan bunga dan daun yang sedang benar – benar mekar. Bagaimana bisa aku memiliki perasaan seperti ini kepadamu, bagaimana mungkin aku tak sadar dengan hadirnya perasaan serumit ini, hingga saat ini aku tak bisa mengendalikannya lagi.
Aku tak mengenalmu lebih dari sekedar nama, kau pun mungkin sepertiku. Hanya mengenal namaku, tidak dengan yang lainnya. Tapi semua itu berubah. Sekejap. Tanpa ada isyarat yang kutemukan hingga akhirnya kaujauh lebih mengenalku dari diriku sendiri, dan aku pun juga begitu. Mungkin hanya sekedar basa – basi semata saat awal pertama kali kita mengobrol lewat chat pada satu akun sosial media yang kita punya. Iya, awalnya hanya sekedar obrolan. Obrolan yang membuat kita sadar bahwa tidak seharusnya kita baru saling mengenal, karena kita sadari bahwa kita dalam satu lingkungan yang sama dalam waktu yang yang sangat lama meskipun tanpa pernah sekalipun bertatap dan saling menyapa. Tapi takdir mengenalkan kita pada waktu, waktu yang membuat kita mengikuti setiap liku jalannya hingga kita saling mengenal tanpa sengaja dengan perantara seseorang.

Perdebatan Perihal Siapa yang Paling Merindukan.

Seakan tak ingin melihat matahari tenggelam, aku hanya ingin melihat dirimu cerah dimataku tanpa ada gelap yang menutupinya. Sayangnya, malam mempunyai alurnya sendiri, ia menenggelamkan matahari dengan senja yang indah.
‘kau hanya perlu terbiasa dengan rindumu, dan menatanya rapi hingga waktu bersedia mendamaikannya’ ujar matahari bersama senjanya yang terbenam.

Musim yang bercerita tentang kita adalah semi yang menumbuhkan benih cinta yang terbentuk menjadi sebuah kepingan hati yang terjaga dengan rindu – rindu yang hebat.
Seperti pagi ini, saat kau menyapaku lewat pesan singkat yang kuanggap itu adalah caramu mengungkapkan bagaimana kau mencintaiku. Yeah walaupun kau bukan tipe orang yang romantis, tapi bubuhan kata sayang yang kau selipkan pada akhir kalimat mampu membuat simpul senyum dibibirku merekah bersama embun yang masih bergelayut manja pada dedaunan.
Sepagi ini kau sudah membuat fajar terlihat indah untuk berakhir dengan senja yang indah pula. Seharusnya seperti itu.
‘Selamat pagi sayang..’ tiga kalimat manis yang muncul dilayar telepon genggamku.
Kita bercanda dengan caramu dan caraku yang berbeda, kau yang kadang terlalu egois memikirkan maumu dan aku yang tidak bisa berbuat apa - apa ketika inginmu tak bisa kupenuhi. Tapi kita selalu seperti itu, aku menyebutmu api yang kadang mengahangatkanku dan kadang juga membakarku. Dan aku adalah air yang memadamkan amarah dan keegoisanmu, meskipun lebih sering menenggelamkanmu dalam alur cinta yang kita jalani saat ini. Itu sebuah perbedaan yang masih selalu membuat kita menyatu bukan?.

Minggu, 10 Juli 2016

Musim Gugur

Gugur. Musim kali ini bercerita tentang sebuah usaha melepaskan.
Aku duduk dikursi panjang sebuah taman diantara maple yang menguning dan berserakan diantara tanah – tanah yang mulai kehausan. Sendiri.
Tak biasanya aku suka duduk sendiri dikeramaian hilir mudik pasangan yang bergandengan tangan menikmati harumnya maple. Rasanya seperti alien diantara para manusia bumi, kamu tahu itu. Aku tak suka sendiri.
Sebelum ini, selalu ada kamu yang duduk disampingku menikmati musim – musim yang berganti. Menikmati bulir – bulir salju yang turun dari langit dan membuat bola salju untuk bermain, menghirup segar aroma bunga – bunga musim semi dengan hati yang selalu berbunga karena bersamamu dan menikmati hangatnya musim gugur serta mengumpulan daun – dau maple dan mengeringkannya sebagai pembatas buku atau sekedar hiasan dalam toples – toples. Tapi tidak untuk musim kali ini.

Sepasang Mata



Aku menatap tepat didua kornea matanya
Tak hitam pekat, tapi cokelat mempesona
Mata yang jernih dengan tatapan yang teduh
Dengan garis alis yang tidak terlalu tebal tapi mampu menajamkan
Serta bulu mata lentik yang membuatnya semakin mempesona

Ia hanya diam, memandang lurus kearahku dengan tatapan bingung
‘Apa yang kau lakukan, menatapku seperti itu membuatku menjadi aneh’katanya
‘Aku hanya ingin tahu bagaimana kamu membuatku sangat jatuh cinta hanya dengan tatapanmu’ jawabku
Ia hanya diam dan menoleh ke arahku
‘Aku juga ingin tahu bagaimana gadis sepertimu sangat jatuh cinta kepadaku hanya dengan melihat tatapanku’ ia membalikan perkataanku
Sekarang giliran aku yang terdiam, tersipu dan bingung
Ia menertawaiku, lalu mengecup lembut keningku

Maaf untuk luka yang ku hadirkan

Jika saja aku bisa memutar waktu, aku akan lebih memilih untuk tidak mengenalmu,
Untuk tidak mengagumimu yang berlanjut dengan menyayangimu sekeras ini.
Jika saja aku bisa mengulang waktu, aku hanya ingin tak memupuk rindu untukmu dihatiku
Tak akan aku biarkan diriku memasuki nyaman yang kau suguhkan
Dan, jika aku tak mengenalmu dulu.
Aku tak akan merasakan rindu – rindu yang selama ini kujaga melewati waktu dan jarak
Dan aku juga tak akan mencoba pergi karena sering kau abaikan
Aku tak akan sekuat hati melawan rasa tak pedulimu hingga kau luluh
Aku takakan selalu mencoba berlari karena merasa tak pantas untukmu.
Aku telah berada dimana aku lelah dan tak ingin menghiraukan rasa untukmu yang masih melekat dalam hatiku

Musim Tanpa Dirimu

Selamat berbahagia kamu. Dan mungkin ini awal aku menyapamu lagi setelah aku memutuskan untuk pergi. Oh tunggu, jangan berfikir aku akan membuat alasan agar aku bisa kembali bersamamu. Tidak. Aku hanya sedikit mengungkapkan kata hati yang subuh ini tiba – tiba mengingat tentangmu.
Maaf.
Maaf untuk luka yang ku bekaskan dihatimu, maaf untuk tidak lagi menjaga meskipun aku masih ingin, maaf karena pergi untuk alasan yang mungkin tak termaafkan oleh hatimu dan mungkin yang paling menyakitkan adalah aku pergi dengan hati yang lain. Maaf.
Sebelum ini bukankah aku pernah berkata, aku sering melakukannya. Tapi untuk kali ini mungkin tak termaafkan, karena aku pergi begitu jauh dari jangkauanmu. Bisakah sekali lagi aku membela diri untuk apa yang aku lakukan ? jika kamu masih mau mendengarkanku, mungkin itu adalah caraku agar kamu lebih melihat ke arahku dan mengerti hatiku. Ah apa itu terdengar seperti alasan. Terserah apa pemikiranmu, tapi kamu benar, aku menyesal.
Yang perlu kamu tahu, aku merindukanmu. Sangat.
Tak apa jika kali ini kamu mengabaikanku, dan tak apa jika kali ini kamu benar – benar pergi. Berlarilah sekuatmu agar aku tak coba mengejarmu lagi.
Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa hatiku mulai mereda. Aku tak lagi mengikat hatiku dengan hati siapapun, dan aku juga mulai tenang tak lagi menunggu apa yang seharusnya tidak kutunggu. Bukankah kamu juga seperti itu, bahagia karena aku tidak lagi memintamu untuk memberi apa yang tidak ingin kamu beri. Dan bukankah sekarang adil bagimu dan bagiku juga.
Aku menyesal, iya. Sangat. Tapi aku juga sedikit tenang karena telah mengakhiri apa yang tidak kita mulai meskipun dengan cara yang tidak aku inginkan, yaitu menyakitimu.

Translate