Last
story in page 366 of 366.
Senja kali ini berbeda, ia tak menjingga cerah
tapi juga tak pudar. Ia hadir di antara rintik hujan yang enggan berhenti sejak
kedatangannya. Meskipun warna langit kelabu membuatnya kedinginan dan basah,
tapi ia tetap hadir dan meninggalkan aroma manis romantis seperti senja
sebelumnya. Barangkali Tuhan menjadikan senja sebagai wujud mahluk setia, satu
dari banyaknya ciptaan-Nya yang menepati janji kehadiran meski mendung mencoba
menghalangi. Jadi tak heran jika semua yang melihatnya akan jatuh cinta.
Awal Desember
selalu datang dengan harapan – harapan musim semi yang bermekaran, dimana rindu
akan bermekaran di antara bunga – bunga musim semi. Tapi lagi, aku
melupakannya. Bahwa Desember bukanlah
bulan musim semi, tapi musim hujan. Dimana langit terus saja menangis meski
kadang ia bahagia. Ya, itulah takdir musim. Dan pertengahan Desember akan datang membawa cerita –
cerita tentang rindu yang basah, entah karena hujan atau air mata.
‘Desember telah usai, musim akan
berganti’ bisik senja kepada langit yang akhirnya tenggelam meninggalkan
kehangatan diantara dingin yang terasa.
Begitulah
kiranya senja terakhir di musim ini berakhir. Tak banyak kata, tapi mejelaskan
banyak hal dengan kehadirannya.
Seperti
Dandelion yang tak bertanya kepada
angin saat bagian - bagian darinya
diterbangkan untuk tetap hidup.
Seperti
gugur yang menjatuhkan daun – daun maple
tanpa bertanya apa ia ingin tetap pada rantingnya atau patah berterbangan.
Dan
seperti seseorang yang saling mencintai,
tapi tetap diam. Hanya saja saling menjelaskan dengan caranya.
Mungkin
saja benar, diam adalah cara terbaik kau mencintai seseorang ketika segala
sesuatunya tak cukup kau ungkapkan hanya dengan kata – kata.
Hujan
bulan Desember, membekukan yang
hangat. Menghilangkan yang tersisa. Hanya aroma perasaan sedih ataupun bahagia
yang meninggalkan jejaknya dengan hujan.
Hujan
bulan Desember, sia - sia. Seperti
aroma kafein yang dingin, tak tersentuh bibirmu.
‘Hujan kali ini enggan me-reda, ia bertahan.
Sebab ada yang sulit di lupakan, meski telah banyak rintik yang berjatuhan’
ujar langit pada bumi.
Akhir Desember
dan takdir semesta yang memaksa kita untuk sama – sama lebih berjalan jauh,
sendiri – sendiri. Meski aku masih berusaha mengikutimu tanpa kau tahu.
Setidaknya itu membuat rinduku tak akan lagi
menumpuk di lembar Desember yang
penuh hujan dan banyak tanya. Karena masih seperti sebelumnya, kau sedang
berusaha keras memperjuangkan bahagiamu. Sementara kau sendiri tahu, apa yang
kau cari masih ada bersamaku. Dan kau pura – pura tak mengetahuinya.
Senja yang membuatku jatuh cinta adalah waktu dimana aku menemukanmu,
lalu mencintaimu. Sungguh, aku kagum dengan pandainya semesta dalam hal
menyelamatkan hati. Dan
hingga detik terakhir saat senja di lembar terakhir Desember, aku kembali mengingat sebuah perasaan yang seringkali
ingin ku ulang – namun gagal – tapi aku masih tetap mencobanya.
”Karena tentang mencintai seseorang, tidak
sedikit dari mereka yang memaksa bertahan pada keadaan paling menyakitkan
sekalipun.”
Desembe(R)ain,
Selamat nyenja di lembar terakhir
Desember
Aku merindukanmu ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar