Rabu, 14 September 2016

Mungkin Juga Aku Begitu, Jatuh Cinta Padamu ?

Perasaan adalah pengelana waktu yang tak bisa kita kendalikan. Sebahagia atau setidak menyenangkannya perasaan itu hadir, ia akan tetap datang dan pergi sesukanya atas dasar waktu. Ya, siapa yang bisa mengelak bahwa waktu seperti layaknya Tuhan yang menguasai dunia. Dan bukan ketidak segajaan jika Tuhan menciptakan waktu agar kita bisa menghargai setiap detik yang Tuhan ciptakan atas makhluknya didunia ini.
Sama seperti perasaanku, perasaan tentangmu tak mampu aku buang begitu saja. Bahkan ketika aku tahu bahwa awalnya ini bukanlah perasaan yang aku mau. Perasaan yang mungkin saja salah ketika aku sedang menanti seseorang dan tahu bahwa seharusnya aku tak memiliki perasaan aneh seperti ini bahkan ketika aku masih dengan jelas mengingat bagaimana kau meninggalkan masa lalumu yang berakhir dengan ketidakadilan sepihak menurutku. Aku tahu bahwa kau telah membuat musim yang sedang bersemi dengan mengubahnya menjadi musim gugur yang menggugurkan bunga dan daun yang sedang benar – benar mekar. Bagaimana bisa aku memiliki perasaan seperti ini kepadamu, bagaimana mungkin aku tak sadar dengan hadirnya perasaan serumit ini, hingga saat ini aku tak bisa mengendalikannya lagi.
Aku tak mengenalmu lebih dari sekedar nama, kau pun mungkin sepertiku. Hanya mengenal namaku, tidak dengan yang lainnya. Tapi semua itu berubah. Sekejap. Tanpa ada isyarat yang kutemukan hingga akhirnya kaujauh lebih mengenalku dari diriku sendiri, dan aku pun juga begitu. Mungkin hanya sekedar basa – basi semata saat awal pertama kali kita mengobrol lewat chat pada satu akun sosial media yang kita punya. Iya, awalnya hanya sekedar obrolan. Obrolan yang membuat kita sadar bahwa tidak seharusnya kita baru saling mengenal, karena kita sadari bahwa kita dalam satu lingkungan yang sama dalam waktu yang yang sangat lama meskipun tanpa pernah sekalipun bertatap dan saling menyapa. Tapi takdir mengenalkan kita pada waktu, waktu yang membuat kita mengikuti setiap liku jalannya hingga kita saling mengenal tanpa sengaja dengan perantara seseorang.

Perdebatan Perihal Siapa yang Paling Merindukan.

Seakan tak ingin melihat matahari tenggelam, aku hanya ingin melihat dirimu cerah dimataku tanpa ada gelap yang menutupinya. Sayangnya, malam mempunyai alurnya sendiri, ia menenggelamkan matahari dengan senja yang indah.
‘kau hanya perlu terbiasa dengan rindumu, dan menatanya rapi hingga waktu bersedia mendamaikannya’ ujar matahari bersama senjanya yang terbenam.

Musim yang bercerita tentang kita adalah semi yang menumbuhkan benih cinta yang terbentuk menjadi sebuah kepingan hati yang terjaga dengan rindu – rindu yang hebat.
Seperti pagi ini, saat kau menyapaku lewat pesan singkat yang kuanggap itu adalah caramu mengungkapkan bagaimana kau mencintaiku. Yeah walaupun kau bukan tipe orang yang romantis, tapi bubuhan kata sayang yang kau selipkan pada akhir kalimat mampu membuat simpul senyum dibibirku merekah bersama embun yang masih bergelayut manja pada dedaunan.
Sepagi ini kau sudah membuat fajar terlihat indah untuk berakhir dengan senja yang indah pula. Seharusnya seperti itu.
‘Selamat pagi sayang..’ tiga kalimat manis yang muncul dilayar telepon genggamku.
Kita bercanda dengan caramu dan caraku yang berbeda, kau yang kadang terlalu egois memikirkan maumu dan aku yang tidak bisa berbuat apa - apa ketika inginmu tak bisa kupenuhi. Tapi kita selalu seperti itu, aku menyebutmu api yang kadang mengahangatkanku dan kadang juga membakarku. Dan aku adalah air yang memadamkan amarah dan keegoisanmu, meskipun lebih sering menenggelamkanmu dalam alur cinta yang kita jalani saat ini. Itu sebuah perbedaan yang masih selalu membuat kita menyatu bukan?.

Translate