Rabu, 14 September 2016

Perdebatan Perihal Siapa yang Paling Merindukan.

Seakan tak ingin melihat matahari tenggelam, aku hanya ingin melihat dirimu cerah dimataku tanpa ada gelap yang menutupinya. Sayangnya, malam mempunyai alurnya sendiri, ia menenggelamkan matahari dengan senja yang indah.
‘kau hanya perlu terbiasa dengan rindumu, dan menatanya rapi hingga waktu bersedia mendamaikannya’ ujar matahari bersama senjanya yang terbenam.

Musim yang bercerita tentang kita adalah semi yang menumbuhkan benih cinta yang terbentuk menjadi sebuah kepingan hati yang terjaga dengan rindu – rindu yang hebat.
Seperti pagi ini, saat kau menyapaku lewat pesan singkat yang kuanggap itu adalah caramu mengungkapkan bagaimana kau mencintaiku. Yeah walaupun kau bukan tipe orang yang romantis, tapi bubuhan kata sayang yang kau selipkan pada akhir kalimat mampu membuat simpul senyum dibibirku merekah bersama embun yang masih bergelayut manja pada dedaunan.
Sepagi ini kau sudah membuat fajar terlihat indah untuk berakhir dengan senja yang indah pula. Seharusnya seperti itu.
‘Selamat pagi sayang..’ tiga kalimat manis yang muncul dilayar telepon genggamku.
Kita bercanda dengan caramu dan caraku yang berbeda, kau yang kadang terlalu egois memikirkan maumu dan aku yang tidak bisa berbuat apa - apa ketika inginmu tak bisa kupenuhi. Tapi kita selalu seperti itu, aku menyebutmu api yang kadang mengahangatkanku dan kadang juga membakarku. Dan aku adalah air yang memadamkan amarah dan keegoisanmu, meskipun lebih sering menenggelamkanmu dalam alur cinta yang kita jalani saat ini. Itu sebuah perbedaan yang masih selalu membuat kita menyatu bukan?.

Meskipun candaan pagi ini lagi – lagi berujung pada pertanyaan yang membuatku diam dan merasa bersalah karena jarak dan waktu yang masih tak mau berdamai, dan itu karena aku yang masih menyelesaikan targetku. Dan lagi – lagi itu selalu kau sebut sebagai kesalahan terbesarku.
‘Kapan kamu pulang ?’
‘Apa kau tak merindukanku ?’
‘Aku mulai bosan menunggumu.’
Dan bla bla kalimat lain yang selalu menjadi pertengkaran kecil tapi rutin terjadi ketika kita sedang mencoba melantunkan rindu, mungkin juga itu terjadi pada pasangan Long Distance Relationship lainnya. Ah, apakah kau akan terus – menerus membuatku merasa bersalah karena aku masih sibuk dengan apa yang aku lakukan disini ?. Mengertilah, ini memang bukan mauku tapi ini jalanku, dan bukankah sebelum kau menungguku, aku juga menunggumu tanpa kabar dan kesempatan untuk menghubungimu karena kau benar – benar berada diluar jangkauan komunikasi. Kau harus memperthitugkan pertahananku yang satu ini, seharusnya.
            Pertengkaran kecil dan besar itu mungkin diawali dengan kalimat manis seperti  ‘Aku merindukanmu, kapan kita bisa menuai rindu?’ dan disitulah saat – saat ego terbesar muncul.
Sekali lagi, diantara kita memang kau yang egonya terlalu diutamakan. But, aku tahu itu adalah caramu agar aku juga bisa peka terhadap rindumu. Yang perlu kau ketahui adalah, bukan aku tak pernah merindukanmu. Tapi bagaimana caramu menahan rapi rindu hingga egomu tak kau utamakan.
            Senja ini tak begitu indah, jika senja selalu membuatku jatuh cinta. Ini adalah kali pertama aku membenci senja. Memarahinya dengan alasan ia terlalu cepat menenggelamkan matahari. Aku bahkan belum sempat menyampaikan bagaimana aku merindukannya, hingga senja hilang bersama matahari dan kau yang ikut menghilang.
Kau bilang kau terlalu bosan untuk menungguku, apa aku harus percaya itu ?  kau ingat musim pertama kita membuat cerita ini kan. Dulu juga kau mengatakan hal yang sama, ‘seperti berhubungan dengan hantu’ yeah itu kalimat yang ku ingat. Dan apa perlu kali ini kau mengulanginya lagi? Apa aku perlu menyalahkan semua ini pada diriku sendiri yang memilih jalan ini. Jika seperti itu, bukankah penantianku sebelum kau kembali itu sia – sia.
‘Tenangkan dirimu, egomu mulai mempengaruhimu’ kataku lewat telepon.
‘Aku tak akan bisa tenang, selama kau masih disitu. Berhenti menghubungiku dan menggangguku’ katamu dengan nada yang bisa kupahami.
‘Hey, aku mencoba menenangkanmu. Dengan alasan apa kau bicara seperti itu?’. Jawabku membela diri sendiri.
‘Jangan pernah menenangkanku jika kau membawa minyak, kau akan terbakar karena ulahmu sendiri’ katamu menantang.
‘Apa maksudmu?’ aku mencoba mengartikan perkataannya.
belum sempat aku memahaminya, suaranya hilang. Hanya dering putusan telepon yang mengganggu telingaku.
Aku mencoba meneleponnya lagi, tapi sia – sia. Ia mematikan handphone atau sengaja mengalihkan nomorku. Aku menyerah, meletakan telepon genggamku dengan kesal dan rasanya ingin mengancurkan semua yang ada disekitarku.
Bagaimana mungkin ia selalu menyalahkanku atas jarak jika dia juga mempersulit kesempatan untuk aku menjelaskannya. Dan bagaimana mungkin aku bertahan sejauh ini denganmu, ah cinta. Kadang ia juga sesulit ini.
Aku memilih diam mematikan ponselku, dan tak menghubunginya. Meskipun aku juga tahu bahwa dia tak akan pernah menghubungiku duluan. Seperti biasanya, aku akan mencoba meluluhkannya lagi saat aku mulai merasa sepi dan merindukan hadirnya. Aku benci itu, tapi bodohnya aku tetap melakukan itu.
Kadang perasaan menjadi bagian pembodohan untuk diri sendiri, bahkan absurd untuk diterjemahkan. Kau akan tahu rasanya jika kau mencintai sekaligus membenci seseorang yang kau sayang dalam satu waktu. Nyaman yang ia berikan menjadi kerinduan yang kau inginkan, bahagia yang ia ciptakan menjadi hal yang kau nantikan, atau bahkan yang lebih konyol kau akan merindukan perdebatan dan pertengkaran dengannya. Tapi kau tetap bahagia. Ya, begitulah cinta hadir dalam beberapa waktu. Tak peduli seberapa engkau mencoba tidak peduli pada hal sekecil perasaan bahagia yang konyol tapi disitulah perasaan yang sebenarnya hadir.
Seperti malam ini, bahkan setelah perdebatan soal rindu siang tadi. Aku masih sempat merindukannya dan berharap bisa bercanda dengannya malam ini. Tapi sepertinya ia benar – benar tak mempedulikan itu dan masih tak mau berhenti mengalihkan perhatiannya terhadapku sampai aku benar – benar hadir didepan matanya.
Bahkan kau tak mau tahu bahwa rinduku lebih dalam dibanding kau merindukanku, aku ingin bertemu denganmu dan memelukmu hingga rinduku dan rindumu menyatu.
Baiklah, untuk kali ini aku menyerah. Aku tak akan bisa berlama – lama tak menghubungimu. Aku menyalakan ponselku, dan mengirimkan pesan kapadanya hingga akhirnya aku tertidur karena menunggu balasannya.
‘Aku merindukanmu’ gumamku sebelum terlelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate