Aku
duduk dikursi panjang sebuah taman diantara maple yang menguning dan berserakan
diantara tanah – tanah yang mulai kehausan. Sendiri.
Tak
biasanya aku suka duduk sendiri dikeramaian hilir mudik pasangan yang
bergandengan tangan menikmati harumnya maple. Rasanya seperti alien diantara
para manusia bumi, kamu tahu itu. Aku tak suka sendiri.
Sebelum
ini, selalu ada kamu yang duduk disampingku menikmati musim – musim yang
berganti. Menikmati bulir – bulir salju yang turun dari langit dan membuat bola
salju untuk bermain, menghirup segar aroma bunga – bunga musim semi dengan hati
yang selalu berbunga karena bersamamu dan menikmati hangatnya musim gugur serta
mengumpulan daun – dau maple dan mengeringkannya sebagai pembatas buku atau
sekedar hiasan dalam toples – toples. Tapi tidak untuk musim kali ini.
Musim gugur ini tak hanya menggugurkan daun – daun maple yang menguning dan kering entah lelah atau pasrah terbawa angin, tak hanya mematahkan ranting – ranting yang renta dan enggan untuk menetap dalam pohonnya, tapi juga menggugurkan pertahanan hati yang tak bisa aku ceritakan bagaimana awalnya ia tumbuh dan akhirnya mengakar dalam hatiku, dan mematahkan sayap – sayap indah yang tersusun rapi dalam musim – musim yang lama. Yang aku tahu, aku tak lagi merasakan indahnya musim kali ini.
Semuanya
berbeda, tak sama seperti beberapa musim terakhir. Bukankah ini musim gugur
yang hangat, tapi hatiku hanya merasakan dingin karena tak lagi dalam
pelukanmu, dan aku tak bisa lagi menghirup aroma maple yang kusuka. Aku enggan
mengumpulkan dedaunan maple yang indah itu sebagai hiasan atau pembatas
buku. Semuanya berbeda, hambar dan
sangat melelahkan. Bolehkah aku kembali ke musim sebelum ini Tuhan ?
Aku
termenung, mengingat semua hal undah yang telah kita lewati bersama. Hatiku
sesak, hingga tak lagi bisa kubendung air mataku yang mulai menetes. Aku tak
menghiraukan banyaknya orang yang yang melihatku menangis, aku hanya ingin
mengeluarkan semuanya. Aku hanya ingin hatiku tak lagi sesak dengan sebuah
penyesalan. Dan aku berharap kamu akan datang dan duduk disampingku lagi,
mengahangatkan musim ini dengan pelukanmu. Tapi hingga senja mengguratkan
senyum jingganya, aku tak menemukanmu.
Aku
hanya menemukan diriku sendiri dengan menyedihkan duduk sendiri tanpa ada orang
disekitarku, sudah berapa lama aku menangis ditempat ini.
Aku
menguatkan diriku untuk berjalan, membasuh sisa – sisa air mata yang tak
hentinya menetes dan beranjak dari tempat penuh kenangan ini. Aku lelah, bahkan
ini sangat lelah.
Langkah
gontai tak berirama ini mulai beranjak, berjalan meninggalkan aroma maple yang
tak bisa kurasakan.
Tapi,
belum jauh aku melangkah. Aku mendengar seseorang memanggilku, bagaimana
mungkin ada orang lain yang mengenalku dan masih disini saat senja mulai
tenggelam di bagian baratnya. Hatiku berdebar, harapan tentangmu mulai menguat
lagi. Kali ini aku tak akan mungkin salah, tak ada lagi selain kamu yang datang
kesini bersamaku.
Aku
menoleh dengan hati yang tak hentinya berharap, ,
Aku
melihatnya, ,
Mataku
mengamati detilenya,,
Ia
tersenyum, manis, ,
Dan
mulai berjalan ke arahku,
Aku
masih tertegun, tak bergerak sedikit pun
Mataku
terasa terbakar karena lama tak berkedip
Ia
tepat dihadapanku sekarang,
Kali
ini aku benar mengenalnya
Aku
menangis lagi, dan ini lebih menyesakkan
Aku
menemukan seseorang, saat aku akan beranjak pergi
Dan
itu bukan kamu,
Saat
aku berharap suara itu adalah milikmu
Saat
aku berharap kamu yang memanggilku
Saat
aku berharap kamu yang menghentikan langkahku
Saat
aku berharap kamu kembali disampingku
Saat
aku berharap kamu masih peduli terhadapku
Saat
aku berharap kamu yang akan membasuh air mataku,dan menenagkanku
Saat
aku berharap aku akan melihatmu lagi di musim ini
Saat
hatiku benar – benar berharap itu kamu
Tapi
kali ini benar bukan kamu
Bukan
kamu yang memanggilku
Bukan
kamu yang menghentikan langkahku
Kamu
tak lagi disampingku
Tak
akan ada lagi pedulimu untukku
Dan
bukan kamu yang membasuh air mataku, dan menenangkanmu
Aku
tak melihatmu
Aku
tak melihatmu berada didepanku saat ini
Lalu
?
Bagaimana
seseorang ini lancang menghentikan langkahku
Aku
menangis, terisak dan tak bisa ku kendalikan
Ini
benar – benar menyesakkan, hal yang paling menyakitkan adalah ketika aku tak
menemukanmu. Seperti sekarang,
Apa
ini akhirnya, atau ini sebuah awal ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar