Minggu, 10 Juli 2016

Musim Gugur

Gugur. Musim kali ini bercerita tentang sebuah usaha melepaskan.
Aku duduk dikursi panjang sebuah taman diantara maple yang menguning dan berserakan diantara tanah – tanah yang mulai kehausan. Sendiri.
Tak biasanya aku suka duduk sendiri dikeramaian hilir mudik pasangan yang bergandengan tangan menikmati harumnya maple. Rasanya seperti alien diantara para manusia bumi, kamu tahu itu. Aku tak suka sendiri.
Sebelum ini, selalu ada kamu yang duduk disampingku menikmati musim – musim yang berganti. Menikmati bulir – bulir salju yang turun dari langit dan membuat bola salju untuk bermain, menghirup segar aroma bunga – bunga musim semi dengan hati yang selalu berbunga karena bersamamu dan menikmati hangatnya musim gugur serta mengumpulan daun – dau maple dan mengeringkannya sebagai pembatas buku atau sekedar hiasan dalam toples – toples. Tapi tidak untuk musim kali ini.

Musim gugur ini tak hanya menggugurkan daun – daun maple yang menguning dan kering entah lelah atau pasrah terbawa angin, tak hanya mematahkan ranting – ranting yang renta dan enggan untuk menetap dalam pohonnya, tapi juga menggugurkan pertahanan hati yang tak bisa aku ceritakan bagaimana awalnya ia tumbuh dan akhirnya mengakar dalam hatiku, dan mematahkan sayap – sayap indah yang tersusun rapi dalam musim – musim yang lama. Yang aku tahu, aku tak lagi merasakan indahnya musim kali ini.
Semuanya berbeda, tak sama seperti beberapa musim terakhir. Bukankah ini musim gugur yang hangat, tapi hatiku hanya merasakan dingin karena tak lagi dalam pelukanmu, dan aku tak bisa lagi menghirup aroma maple yang kusuka. Aku enggan mengumpulkan dedaunan maple yang indah itu sebagai hiasan atau pembatas buku.  Semuanya berbeda, hambar dan sangat melelahkan. Bolehkah aku kembali ke musim sebelum ini Tuhan ?
Aku termenung, mengingat semua hal undah yang telah kita lewati bersama. Hatiku sesak, hingga tak lagi bisa kubendung air mataku yang mulai menetes. Aku tak menghiraukan banyaknya orang yang yang melihatku menangis, aku hanya ingin mengeluarkan semuanya. Aku hanya ingin hatiku tak lagi sesak dengan sebuah penyesalan. Dan aku berharap kamu akan datang dan duduk disampingku lagi, mengahangatkan musim ini dengan pelukanmu. Tapi hingga senja mengguratkan senyum jingganya, aku tak menemukanmu.
Aku hanya menemukan diriku sendiri dengan menyedihkan duduk sendiri tanpa ada orang disekitarku, sudah berapa lama aku menangis ditempat ini.
Aku menguatkan diriku untuk berjalan, membasuh sisa – sisa air mata yang tak hentinya menetes dan beranjak dari tempat penuh kenangan ini. Aku lelah, bahkan ini sangat lelah.
Langkah gontai tak berirama ini mulai beranjak, berjalan meninggalkan aroma maple yang tak bisa kurasakan.
Tapi, belum jauh aku melangkah. Aku mendengar seseorang memanggilku, bagaimana mungkin ada orang lain yang mengenalku dan masih disini saat senja mulai tenggelam di bagian baratnya. Hatiku berdebar, harapan tentangmu mulai menguat lagi. Kali ini aku tak akan mungkin salah, tak ada lagi selain kamu yang datang kesini bersamaku.
Aku menoleh dengan hati yang tak hentinya berharap, ,
Aku melihatnya, ,
Mataku mengamati detilenya,,
Ia tersenyum, manis, ,
Dan mulai berjalan ke arahku,
Aku masih tertegun, tak bergerak sedikit pun
Mataku terasa terbakar karena lama tak berkedip
Ia tepat dihadapanku sekarang,
Kali ini aku benar mengenalnya
Aku menangis lagi, dan ini lebih menyesakkan
Aku menemukan seseorang, saat aku akan beranjak pergi
Dan itu bukan kamu,
Saat aku berharap suara itu adalah milikmu
Saat aku berharap kamu yang memanggilku
Saat aku berharap kamu yang menghentikan langkahku
Saat aku berharap kamu kembali disampingku
Saat aku berharap kamu masih peduli terhadapku
Saat aku berharap kamu yang akan membasuh air mataku,dan menenagkanku
Saat aku berharap aku akan melihatmu lagi di musim ini
Saat hatiku benar – benar berharap itu kamu
Tapi kali ini benar bukan kamu
Bukan kamu yang memanggilku
Bukan kamu yang menghentikan langkahku
Kamu tak lagi disampingku
Tak akan ada lagi pedulimu untukku
Dan bukan kamu yang membasuh air mataku, dan menenangkanmu
Aku tak melihatmu
Aku tak melihatmu berada didepanku saat ini
Lalu ?
Bagaimana seseorang ini lancang menghentikan langkahku
Aku menangis, terisak dan tak bisa ku kendalikan
Ini benar – benar menyesakkan, hal yang paling menyakitkan adalah ketika aku tak menemukanmu. Seperti sekarang,
Apa ini akhirnya, atau ini sebuah awal ?
Tuhan, aku merindukannya. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate