Maaf.
Maaf
untuk luka yang ku bekaskan dihatimu, maaf untuk tidak lagi menjaga meskipun
aku masih ingin, maaf karena pergi untuk alasan yang mungkin tak termaafkan
oleh hatimu dan mungkin yang paling menyakitkan adalah aku pergi dengan hati
yang lain. Maaf.
Sebelum
ini bukankah aku pernah berkata, aku sering melakukannya. Tapi untuk kali ini
mungkin tak termaafkan, karena aku pergi begitu jauh dari jangkauanmu. Bisakah
sekali lagi aku membela diri untuk apa yang aku lakukan ? jika kamu masih mau
mendengarkanku, mungkin itu adalah caraku agar kamu lebih melihat ke arahku dan
mengerti hatiku. Ah apa itu terdengar seperti alasan. Terserah apa pemikiranmu,
tapi kamu benar, aku menyesal.
Yang
perlu kamu tahu, aku merindukanmu. Sangat.
Tak
apa jika kali ini kamu mengabaikanku, dan tak apa jika kali ini kamu benar –
benar pergi. Berlarilah sekuatmu agar aku tak coba mengejarmu lagi.
Aku
hanya ingin memberitahumu, bahwa hatiku mulai mereda. Aku tak lagi mengikat hatiku
dengan hati siapapun, dan aku juga mulai tenang tak lagi menunggu apa yang
seharusnya tidak kutunggu. Bukankah kamu juga seperti itu, bahagia karena aku
tidak lagi memintamu untuk memberi apa yang tidak ingin kamu beri. Dan bukankah
sekarang adil bagimu dan bagiku juga.
Aku
menyesal, iya. Sangat. Tapi aku juga sedikit tenang karena telah mengakhiri apa
yang tidak kita mulai meskipun dengan cara yang tidak aku inginkan, yaitu
menyakitimu.
Kamu
memang tak mengatakan secara langsung kepadaku, tapi bukankah itu satu kode
untukku agar aku tak lagi mengikutimu setalah apa yang aku lakukan terhadapmu ?
dan aku akan mengikutinya. Berjanjilah kamu akan bahagia tanpaku.
Cukup
simpan rapi perjalanan jauh kita, kamu boleh menyimpannya atau bahkan
menghapusnya agar kamu tak akan ragu lagi dalam menitipkan hatimu kepada
seseorang.
Kali
ini akan aku usahakan tak akan ada lagi aku yang memintamu bertahan atau
memintamu mencitaiku seperti dulu. Tak akan ada lagi aku yang cemburu melihatmu
dekat dengan yang lain. Tak akan ada lagi penantian untuk sekedar pesan atau
hadirmu dihadapanku. Aku akan berusaha tak akan jatuh cinta lagi ketika melihat
matamu atau senyummu yang menenangkan.
Dan
kamu juga harus mengusahakan hatimu sembuh dengan cepat, meskipun bahkan ketika
kamu benar - benar kecewa terhadapku dan
mulai menjauhiku aku masih ingin turut andil menyambuhkan luka yang kugoreskan,
tapi aku tahu kamu tak akan pernah mengizinkannya lagi.
Berusahalah
tak membuatku khawatir dengan catatan – catatan yang kamu tuliskan dibeberapa
akun sosial mediamu, berlarilah secepat yang kamu bisa karena aku takut aku
akan bisa mengejarmu lagi,bersenang – senanglah seperti yang kamu perlihatkan
kepada dunia maya, tapi berhentilah memperlihatkan bahwa kamu baik – baik saja
dihadapanku karena selain menyakitiku bahkan tanpa kamu memberitahuku, aku tahu
hatimu terluka.
Tak
perlu menutupi apapun dariku karena sekuat apapun usahamu untuk menjauhiku dan
beranjak dari hatiku, setidaknya beberapa tahun disampingmu aku sedikit banyak
paham tentang hatimu. Jadi berhentilah bersikap seperti yang kamu lakukan saat
ini.
Untukmu
yang masih aku kagumi, berbahagialah.
Karena
aku akan lebih bahagia jika melihatmu bahagia, apa ini terlihat seperti
kebohongan?
Aku
mungkin tak akan benar – benar baik – baik saja ketika kamu bahagia dengan
seseorang selain aku, tapi ini yang kuucapkan saat pamitku telah terucapkan.
Bisakah aku ingkari ?
Ah,
maaf. Aku masih sulit mengendalikan diriku tentang perasaan.
Cepatlah
beranjak, karena aku masih mengikutimu. Berlarilahh, tolong.
Mungkin
jika Tuhan mengizinkan aku akan sangat berharap bertemu dengamu lagi, tapi
mungkin Tuhan pun telah enggan membiarkanku bersamamu lagi karena aku terlalu
sering membuatmu terluka.
Seperti
yang kamu katakan, kamu memang masih ada didekatku. Tapi tidak dengan hatimu.
Terimakasih
telah menyadarkanku, terimakasih masih mau ada didekatku. Meski sekarang hatimu entah untuk siapa. .
Sedih.. persis apa yg aku rasakan sekarang.. 😞
BalasHapus