Perasaan adalah
pengelana waktu yang tak bisa kita kendalikan. Sebahagia atau setidak
menyenangkannya perasaan itu hadir, ia akan tetap datang dan pergi sesukanya
atas dasar waktu. Ya, siapa yang bisa mengelak bahwa waktu seperti layaknya
Tuhan yang menguasai dunia. Dan bukan ketidak segajaan jika Tuhan menciptakan
waktu agar kita bisa menghargai setiap detik yang Tuhan ciptakan atas
makhluknya didunia ini.
Sama seperti
perasaanku, perasaan tentangmu tak mampu aku buang begitu saja. Bahkan ketika
aku tahu bahwa awalnya ini bukanlah perasaan yang aku mau. Perasaan yang
mungkin saja salah ketika aku sedang menanti seseorang dan tahu bahwa
seharusnya aku tak memiliki perasaan aneh seperti ini bahkan ketika aku masih dengan
jelas mengingat bagaimana kau meninggalkan masa lalumu yang berakhir dengan
ketidakadilan sepihak menurutku. Aku tahu bahwa kau telah membuat musim yang
sedang bersemi dengan mengubahnya menjadi musim gugur yang menggugurkan bunga
dan daun yang sedang benar – benar mekar. Bagaimana bisa aku memiliki perasaan
seperti ini kepadamu, bagaimana mungkin aku tak sadar dengan hadirnya perasaan
serumit ini, hingga saat ini aku tak bisa mengendalikannya lagi.
Aku tak
mengenalmu lebih dari sekedar nama, kau pun mungkin sepertiku. Hanya mengenal
namaku, tidak dengan yang lainnya. Tapi semua itu berubah. Sekejap. Tanpa ada
isyarat yang kutemukan hingga akhirnya kaujauh lebih mengenalku dari diriku
sendiri, dan aku pun juga begitu. Mungkin hanya sekedar basa – basi semata saat
awal pertama kali kita mengobrol lewat chat pada satu akun sosial media yang
kita punya. Iya, awalnya hanya sekedar obrolan. Obrolan yang membuat kita sadar
bahwa tidak seharusnya kita baru saling mengenal, karena kita sadari bahwa kita
dalam satu lingkungan yang sama dalam waktu yang yang sangat lama meskipun
tanpa pernah sekalipun bertatap dan saling menyapa. Tapi takdir mengenalkan
kita pada waktu, waktu yang membuat kita mengikuti setiap liku jalannya hingga
kita saling mengenal tanpa sengaja dengan perantara seseorang.
Entahlah, aku bahkan
tak sadar bahwa kita telah berjalan jauh meskipun masih dekat dengan masa lalu.
Iya, masih sangat dekat. Hingga sesering mungkin kita beradu argumentasi atas
apa yang telah lalu tapi masih mengikat
kita satu sama lain.
Aku
ingin melupakannya, tapi kadang kau mengingatkannya lagi, dan aku benci itu.
Aku benci mengingat apa yang telah lalu, atas diriku sendiri ataupun tentangmu.
Mungkin sepele, tapi itu menyakitkan. Bahkan ketika aku telah sekeras mungkin
menjadi apa yang kau mau dan menjauh dari masa laluku, kau masih tetap
menganggapku sama, bermain dengan masa laluku. Ah, kau memang keras kepala. Cemburumu
keliru, tapi aku juga suka saat kau memperdebatkan masa laluku, karena dengan
begitu aku tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Tapi sebaliknya, jika aku mengingat
masa lalumu. Tentu saja kau punya cara untuk membuatku menyesal karena telah
mengingatkanmu tentang itu, yeah kau ahli membuatku cemburu dengan keegoisanmu.
Bukankah
terlihat lucu, kau menunjukan semua rasamu terhadapku. Tapi kau masih saja
tetap diam dengan terus menerus menerbangkanku. Aku bisa apa selain menunggumu
untuk bicara ?
Kadang
aku memang ingin beranjak, dan mencoba membuang rasa tentangmu yang bahkan aku
ragu perasaan macam apa ini, bahkan tak jarang kau mengabaikanku tapi dengan
sadar diri aku meluluhkanmu lagi. Kau tahu ? aku sangat benci diabaikan, tapi
dihadapanmu aku tak peduli soal itu. Yang ku tahu dan aku mau kau tak
mengabaikanku lagi dan memperhatikanku. Karena aku suka ketika kau hanya
memperhatikanku, aku saja. Bukan orang lain atau masa lalumu.
Aku
sangat ingin memilikimu tapi juga sangat takut takut melukai hati seseorang.
Dan kupastikan itu juga alasan terbesarmu kenapa kau masih kekeuh diam tapi
tetap berada disampingku entah sampai kapan.
Aku tahu kita
sedang sama – sama menunggu untuk menjadikan kepingan mozaik hati kita hingga
menjadi satu perasaan yang utuh.
Kau
bahkan melakukan lebih banyak sesuatu untukku, menungguku, mencari tahu dan
mendengarkan tentang masa laluku dari orang - orang meskipun dengan melakukan
itu kau terlihat menyakiti dirimu sendiri, kau mendengarkanku dengan baik, dan
memberiku banyak hal tentang rasamu, kau menunjukan banyak hal kepadaku,
perasaan yang tersirat yang kau tunjukan lewat semua sikapmu bahwa kau
mencintaiku. Dan yeah, ku akui bahwa mungkin aku juga begitu, jatuh cinta
padamu. Untuk kali ini aku jatuh sejatuh – jatuhnya. Entah apa yang akan
terjadi esok, lusa atau akhirnya, tapi perasaan ini melekat dalam hatiku.
Terimakasih
telah membuatku berjalan lagi setelah lama berhenti pada satu titik yang semu.
Entah kau akan menjadi masa depanku yang sebenarnya atau hanya akan menjadi
kenanganku, tapi untuk saat ini biarkanlah perasaan kita mengalir seperti air.
Biarkan ia mengikuti waktu yang Tuhan gariskan, karena sampai tulisan ini
selesai aku masih tetap mencintaimu seperti awal kau membuatku jatuh cinta
dengan kesan tidak menyenangkan saat awal pertemuan kita. Disitulah mungkin
awal perasaan ini hadir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar