Sabtu, 17 Mei 2014

Senja di-Pantai Itu. . .

 
Siang ini pelangi sempurna menampakkan keindahan tujuh gradasi warnanya, langit pun terlihat indah dan mempesona menghiasi siang menuju senja yang terang dipantai yang selalu ramai dikunjungi para insan yang ingin menikmati sunset yang indah. Semua pasang mata memuji kecantikan ciptaan Tuhan yang satu ini, tapi tidak dengan gadis remaja yang duduk sendiri diantara riuhnya beberapa kelompok remaja lain.
Gadis berjilbab biru muda yang duduk diantara pasir tanpa alas itu menerawang jauh menembus tujuh warna transparan pelangi yang terukir diujung pantai ini. Kerudungnya berkibar diterpa angin laut, bibir kecilnya tak bergerak sedikitpun, jemari tangannya memainkan pasir disekitarnya tanpa merasakan halus pasir tersebut, dan matanya menatap kosong kearah matahari yang beberapa jam lagi akan tenggelam.
            Balqis, gadis remaja yang hampir menginjak dewasa itu berumur 16th. Dia salah satu dari puluhan penghuni pondok pesantren putri yang terletak tak jauh dari pesisir pantai ini. Balqis selalu menyempatkan datang ke pantai, dia sangat menyukai laut, menyukai bisikan lembut angin yang menerpa raut ayu wajahnya, meskipun kadang dia harus melawan kenangan buruknya. Kenangan yang membuatnya menjadi sosok pendiam dan kenangan akan hal bodoh yang telah dia lakukan. Siang ini dia mengunjungi pantai itu sendiri, duduk dibawah pohon yang meneduhkannya serta mencoba menghilangkan penat yang menyiksa pikirannya.
Balqis mencoba untuk tidak mengingat kenangan indah bersama keluarganya, karena jika dia mengingatnya akan selalu ada air mata kesedihan yang pecah menjadi sebuah tangis. Balqis hanya selalu menyebut kedua orangtuanya dalam do.a, dalam setiap sujud – sujudnya menghadap Sang Kuasa. Dia menghusyukan diri menghadap-Nya.

Siang menjelang sore ini pantai terlihat ramai seperti biasa, banyak para remaja lain yang berkelompok bercanda ria serta ada juga sekelompok keluarga yang ingin menikmati indahnya pantai disore hari. Melihat keluarga bahagia itu tanpa aba – aba otaknya langsung memutar kembali kejadian 1 tahun silam, ketika dia harus rela ditinggalkan sang ibu setelah 3 bulan sebelumnya ditinggalkan oleh sang ayah. Balqis putri satu – satunya dalam keluarga, sehingga ketika kedua orang tuanya meninggal dia teramat sangat tertekan, dia belum tahu aturan hidup yang sebenarnya bahkan sekedar memikirkan untuk melalui hidup itu sendiri pun tangisnya pecah tak henti, sampai ahirnya Balqis mencoba memutuskan nadinya dengan menekankan gunting dipergelangan tangan kirinya sebulan setelah kembali kepondok, lalu dia menceburkan diri kedalam laut. Beruntung ada orang yang menemukan dia dan segera membawanya kerumah sakit terdekat. Balqis kehabisan banyak darah dan koma selama 3 hari.
****
“Kriiiinggg”
Bunyi alarm yang bersahutan dengan kokok ayam yang menandakan sang mentari akan menggantikan malam memaksa Balqis menyabakkan selimutnya untuk menunaikan sholat subuh, dia mencoba mengumpulkan kesadarannya dan mengucek – ngucek matanya yang masih teramat sangat mengantuk. Dia paksakan kakiknya untuk berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah selesai berwudhu Balqis menunaikan 2 rokaat wajibnya dan setelah selesai dia keluar dari kamarnya.
“Selamat pagi sayang, kau sudah bangun ternyata.” sapa ibunya yang sedang membuka jendela dengan wajah pucat.
“Pagii juga Bu, yeahh rasanya baru satu jam lalu aku tidur ehh udah pagi aja. Ibu ? Ibu terlihat pucat, apa Ibu sakit ?” jawab Balqis manja sambil mendekati Ibunya.
Mereka duduk berdua menghadap jendela yang terbuka menampakkan sang fajar yang mulai muncul.
“Kau terlalu lelah  karena perjalanan panjangmu nak.” Ibunya mengelus kepalanya dan mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Bagaimana keadaanmu dipondok ? tak ada masalah kan?.” Lanjut ibunya bertanya.
“Baik bu, aku mulai menyukai suasana disana. Selain lebih mengerti tentang apa itu hidup, disana juga aku mempunya banyak teman bu.” Jawab Balqis dengan senyum yang melengkung indah membuat lesung pipitnya terlihat.
“Syukurlahh, Ibu kira kau tak akan betah disana.” gurau ibunya sambil mencubit pipi anak kesayangannya.
“Ahh Ibu kebiasaan deh (sambil memegangi pipinya) aku betah disana juga karena nasehat ibu kok.” Balqis mendekat kepada Ibunya dan memeluk Ibunya dengan penuh kerinduan.
“ Aku sayang Ibu, coba ayah masih disini bersama kita.” Balqis melanjutkan bicaranya sambil melihat ibunya.
“Nakk, ayah mu tetap disini (menuntun tangan Balqis untuk menyentuh dadanya), ayahmu selalu memantau kita dari surga nak, berikan selalu do.amu untuk ayahmu agar dia tenang dan bahagia disana.” Jawab Ibunya menahan kerinduan yang tak berujung pula kepada suaminya.
Balqis tersenyum dan menjawab “ Selalu Bu, Ayah dan Ibu adalah dua orang yang selalu kusebut dalam setiap sujudku.” Dia memeluk erat Ibunya.
            Suasana liburan Balqis dirumah penuh keceriaan, dia belajar memasak, pergi kepasar, membuat kue dan jalan – jalan bersama ibunya. Balqis tak tahu kalau Ibunya menyembunyikan penyakitnya dari dia, karena Ibunya tak mau membuat Balqis sedih atau kecewa. Sampai ahirnya, satu minggu sebelum Balqis kembali kepondok untuk melanjutkan belajarnya, Ibunya tiba – tiba pingsan ketika sedang menyapu halaman. Balqis yang sedari tadi dikamar kaget melihat ibunya sudah terbaring lemah ditanah saat membuka jendela kamarnya.
“Ibuu. .” Balqis lari menuju Ibunya yang tak sadarkan diri
“Ibuu.. Ibu kenapa ? Bangun Buu bangunn,, ya allah, tolongg tolong..” isak Balqis sambil membangunkan Ibunya.
Tak lama kemudian ada beberapa orang yang mendengar teriakan Balqis menangis dihalaman rumahnya.
“Balqis.. kenapa Ibumu Nak?.” Tanya Pak Rusman dengan nada yang sontak membuat Balqis kaget.
“Pak.. tolong Ibu Balqis pak, tolong.” Balqis tak mempedulikan pertanyaan Pak Rusman.
“Tenang Nakk, ayoo langsung kita bawa kerumah sakit saja.” Kata Pak Rusman memberi aba – aba kepada 2 orang lainnya. Balqis hanya mengangguk dan langsung mengikuti dibelakang.
            Sesampainya dirumah sakit Ibunya langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa. Balqis terus menangis karena selama ini Ibunya tak mengeluhkan penyakit atau sekedar bilang bahwa Ia sedang kurang sehat. Pak Rusman mencoba menenangkan Balqis dengan sedikit kemungkinan yang baik.
“Balqis,, Ibumu pasti baik – baik saja Nak.” Kata Pak Rusman.
Balqis hanya diam dan berdo.a agar ibunya baik – baik saja. Tak lama kemudian dokter membuka ruang UGD dengan ekspresi yang tak bisa ditebak oleh Balqis. Dia langsung menghampiri Pak Dokter yang sedang menutup pintu.
“Pak. . bagaimana keadaan Ibu saya ? dia baik – baik saja kan ?”. tanya Balqis tak sabaran.
“Iya Pak bagaimana keadaan Bu Roro”. Lanjut Pak Rusman memperjelas.
Pak Dokter terdiam cukup lama membuat hati Balqis semakin tak karuan.
“Maaf Pak, Nak,, kami telah berusaha memberi pertolongan secepat dan terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain. Beliau sudah tidak ada tepat setelah masuk ruang UGD”. Jelas Pak Dokter yang secara tidak langsung memberi tamparan keras kepada Balqis.
Balqis diam mencermati kalimat Pak Dokter yang terlalu panjang itu. Pak Rusman pun segera meminta penjelasan lebih kepada dokter yang telah memberi penjelasan.
“Maksud bapak, Bu Roro sudah. . “. Kalimatnya menggantung yang disertai tubuh Balqis yang mendadak jatuh kelantai. Pak Rusman dan dokter lansung membopong Balqis ke deretan kursi.
“Innalillahi wa innailahi roojiunn..”. Pak Rusman meneteskan air mata demi mengingat kebaikan yang selalu Bu Roro lakukan.
“Ya Allah tabahkanlah Balqis, beri dia kekuatan serta ketabahan demi menjalani cobaan ini”. Do.a Pak Rusman sementara tangannya masih memegangi Balqis yang belum sadarkan diri.
            Jenazah Ibunya dibawa kerumah untuk dimandikan dan disholati. Balqis telah sadar dan duduk disamping kanan tubuh Ibunya yang terbujur kaku sambil terus menerus meneteskan air mata. Balqis menyesal kenapa waktu awal dia pulang dan melihat raut wajah Ibunya pucat tak langsung bertanya dan membawanya ke dokter.
Merdunya bacaan ya-sin yang tak henti – hentinya terdengar membuat Balqis merasa mati rasa, jiwanya hidup tapi hatinya kosong. Tak ada semangat lagi untuk berjalan dalam putaran roda kehidupan, kini hanya dia sendiri, tak ada lagi Ayah dan Ibunya yang akan memarahi dan menasehati dia ketika salah ataupun benar. Hanya sanak saudara yang ada, itupun tak membuat Balqis merasa tenang.
Setelah disholati jenazah ibunya segera dimakamkan, Balqis mengiringi Ibunya untuk yang terahir kalinya, memanjatkan segala do.a terbaik untuk Ibunya.

1 Minggu kemudian.

            Balqis duduk didepan jendela kamarnya, memandang keluar jendela dan menatap langit. Awan seakan melukiskan raut bahagia Ibunya, Balqis tersenyum dan tak lama kemudian menangis lagi. Entah sudah berapa juta air mata yang keluar dari pelupuk matanya, tak terhitung.
“Ibumu akan sedih jika melihatmu menangis terus sayang”. seseorang mendekatinya, Balqis kaget saat mendengar Tantenya tiba – tiba datang.
“ Dan bodohnya Balqis tak tahu caranya untuk berhenti menangis Tante”. Jawab Balqis dengan tatapan sayu dan nada yang terdengar seperti rintihan.
“ Sayang, Allah menyayangi Ibumu. Maka dari itu Dia meminta Ibumu kembali kesisinya”. Peluk Tantenya yang tak tega melihat keponakannya menagis terus.
“Tapi kenapa secepat ini Tante, Aku bahkan belum sedikitpun membalas atas hidupku disini. Ibu melahirkanku, tak pernah membuatku sedih. Dia selalu mengerti aku dan dia baik, bahkan teramat sangat baik”. Tanya Balqis seakan meminta penjelasan yang dapat Ia mengerti.
“Balqis,, Allah mempunyai rencana indah untukmu. Kuatlah, lanjutkan belajarmu di pesantren dan Ibumu pasti akan bahagia melihatmu lulus nanti”. Jawab Tantenya menasehati.
Hanya diam dan diam yang Balqis lakukan semenjak kepergian ibunya, Balqis yang sebelumnya ceria dan aktif  kini berubah menjadi sosok yang pendiam, penyendiri dan tak menyukai keramaian.
            Tepat 8 hari Ibunya meninggal ahirnya Balqis memutuskan untuk kembali ke pondok pesantren, dengan pemikiran bahwa akan lebih mudah melupakan segala kesedihaan dan untuk bisa bahagia lagi disana. Sanak saudara menyetujui keputusan Balqis dan dengan diantar Tantenya Balqis kembali kepondok.
Sesampainya dipondok Balqis disuguhi perhatian lebih dan ucapan belasungkawa dari para ustadz, ustadzah serta teman – temannya. Balqis sekedar memperlihtkan sedikit simpul senyum yang terlihat terpaksa. Teman sekamarnya Nurul selalu menghibur dan mencoba membuat Balqis tertawa lagi, tapi satu bulan sudah berbagai macam cara Nurul lakukan untuk membuat Balqis tersenyum tapi hasilnya nihil. Balqis tetap diam dan selalu menghindar ketika teman – temannya menghibur.
            Balqis merasa jenuh dengan keadaannya sekarang, tak ada semangat seperti pertama kali dia datang kepondok pesantren ini. Sampai ahirnya pada suatu sore yang mendung Balqis berjalan menuju pantai, dikoridor pondok menuju gerbang besar penjara suci itu Balqis berpapasan dengan Nurul teman sekamarnya.
“Balqiss. . kau mau kemana ? sebentar lagi adzan ashar berkumandang, kita harus bersiap – siap ke masjid sekarang. Ayoo”. Nurul menarik tangan Balqis yang terasa berkeringat dan dingin.
“Emm.. sebaiknya kau dulu Rul yang bersiap – siap, aku ingin ke pantai sebentar. Aku merindukan Ayah dan Ibuku”. Balqis dengan senyumnya melepaskan pegangan Nurul.
Nurul heran, baru kali ini setelah Balqis kembali kepondok dia tersenyum setulus itu. Nurul pun mengangguk menuruti kata Balqis.
“Semoga senyum itu adalah awal kebahagiaanmu lagi teman, aku dan kita semua disini merindukan keceriaanmu”. Dalam hati Nurul berkata.
 Nurul kembali berjalan kekamarnya untuk mengambil mukenah dan siap – siap ke masjid, sedangkan Balqis menuju pantai dengan niat yang sejak malam dia pikirkan. Ini keputusan yang salah mungkin, tapi Balqis telah merasa lelah. Dia berpikir, tak ada alasannya dia hidup.
“Untuk apa aku hidup, untuk siapa aku bertahan ? Ayah, Ibu. . maafkan aku, mungkin ini keputusan yang salah. Tapi aku tak bisa tanpa kalian”. Balqis terus berbicara dan memohon ampun kepada Allah dan kedua orang tuanya.
Sesampainya dipantai, Balqis terus berjalan sampai kakinya tersentuh air. Langit sore ini terlihat mendung, tak ada mega merah atau orange dilangit. Hanya ada awan hitam yang menutupi birunya langit.
            Balqis mengambil gunting disaku roknya, dia memikirkan kembali apa yang ingin dia lakukan. Matanya menerawang sekitarnya, mencoba menikmati hembusan angin yang mungkin untuk terahir kalinya dia rasakan. Ombak seakan bersahutan memanggil namanya, membuat hati dan pikiran Balqis benar – benar kosong. Perlahan dia menekan nadi tangan kirinya dengan gunting yang menghasilkan aliran darah segar yang keluar deras.
“Agghhh. . “. Balqis menahan rasa sakit itu dan membiarkan darah terus mengalir.
“Ayah, Ibu, , aku ingin bertemu dengan kalian. Tunggu aku”. Balqis tersenyum dalam kesakitannya.
Tubuhnya mulai lemah, pandangannya kabur. Sedetik kemudian dia melihat kebelakang, ada Nurul disana. Balqis kaget melihat Nurul yang mulai mengejarnya, Balqis tak tahu kalau sedari tadi Nurul mengikutinya.
“Baaalllqqiiiss. . .”. Nurul berlari menerjang apapun yang didepannya, tubuh Balqis sudah jatuh kedalam air.
“Toloongg.. tolongg..”. Nurul berteriak dalam isak tangisnya melihat teman baiknya mulai terbawa arus.
            Semua orang yang mendengar teriakan Nurul, berhamburan menuju sumber suara. Nurul menceburkan diri dan terus berlari mengejar tubuh Balqis, dan ahirnya dia meraih tangan Balqis dan melihat goresan panjang ditangannyaBeberapa orang lelaki membantunya membawa Balqis ketepi pantai, dan an Balqis segera dibawa kerumah sakit.

****
“Apakah ini surga ?”. pertanyaan pertama saat dia sadar membuat sosok paruh baya yang senantiasa menemaninya merasa kaget dan senang juga. Jemari lentiknya bergerak – gerak dan matanya mulai terbuka dan sadar.
“Nak,, alhamdulillah kamu sudah sadar” ucap Ustadzah Risma saat melihat Balqis mulai sadar.
“Sa. . saya dimana ?” jawab Balqis sambil memegangi kepalanya yang pusing karena terlalu lama tertidur.
“Balqis. .kamu dirumah sakit, kamu melakukan hal bodoh yang seharusnya tak pernah kau lakukan”. Bu Risma menjawab serta mencoba mengingatkan Balaqis
“Istirahatlah, kamu belum pulih sepenuhnya”. Lanjut Ustadzah Risma yang melihat Balqis terlalu lemah.
Tangis Balqis pecah dan Dia meminta maaf karena telah mencoba bunuh diri karena terlalu putus asa.
“Balqis sayang, bukan seperti itu caramu mengatasi masalahmu nak. Allah benci hambanya yang mudah putus asa.” Ustadzah Risma menasihati Balqis dengan penuh keibuan.
Balqis hanya diam dan menyesali perbuatan bodohnya. Keesokan harinya Balqis terbangun ketika sang mentari telah menebarkan cahayanya keseluuruh penjuru, matanya terasa sangat panas dan mencoba terbuka ketika sinar kecil yang masuk melalui celah jendela tepat menusuk matanya.
            Balqis kembali kepondok setelah 10 hari dirawat dirumah sakit, Nurul adalah orang pertama yang sangat bahagia dengan kembalinya Balqis. Balqis pun menyesali segala kelakuan bodoh yang telah dia lakukan. Dia baru menyadari bahwa banyak orang yang menyayanginya. Bahkan lebih banyak dari yang dia fikirkan.

 “Tuhan, maafkan segala kebodohan dan keputus asaanku dalam menghadapi segala cobaan-Mu”. Balqis berdo.a setelah sholat subuh.
Air matanya deras mengalir saat memori otaknya mengulang lagi kejadian sore yang mendung di pantai. Dia berfikir, pasti Ayah dan Ibunya kecewa melihat sikap Balqis yang ceroboh dan mudah berputus asa.
            Setelah kembalinya Balqis kepondok pesantren, Balqis lebih ceria dari biasanya. Senyumnya kembali, dan hampir semua penghuni pondok merasa bahagia karena salah satu penghuni pondok yang terkenal baik dan ramah itu kembali.
Balqis menyesali perbuatannya, menjadi lebih sering menghadap Allah dalam sujud – sujud wajib dan sunnahnya. Semangatnya kembali, menjadikan dia mudah menghadapi masalah dengan kepala dingin.
            Dari semua masalah yang singgah dalam kehidupannya, Balqis semakin termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya dipondok. Membuat bangga almaarhumah kedua orangtuanya yang tak mendampingi Balqis selama perjalanannya.

*****
“Heyy,, sedang apa kau disini ?”. tanya NU\urul mengagetkan Balqis yang sedari tadi melamun mengulang kejadian 1 tahun silam.
“ehh, kau ini, hobi sekali mengagetkan orang”. Jawab Balqis yang sontak memukul kaki Nurul.
“Haha,, apa kamu mau coba bunuh diri lagi, hahh ?”. tanya Nurul yang sedikit sebal mengingat kejadian itu.
“Ahh,, apa – apaan kamu ini, datang – datang langsung bicara yang tidak – tidak. Menyebalkan !”. dengus Balqis yang langsung mengalihkan pandangannya.
“Bercanda sayang, aku nggak mau kamu bertindak bodoh lagi”. Jawab Nurul sambil merangkulkan tangannya kepundak Balqis dan ikut duduk disamping Balqis sambil tersenyum.
            Balqis hanya tersenyum melihat sahabatnya yang kadang menyebalkan ini menjadi seromantis dan puitis menyaingi Kahlil Gibran.
Mereka berdua menikmati senja dipantai itu dengan melihat sunset yang terlihat sempurna, tenggelam diantara  panjangnya garis pantai yang entah dimana ujungnya. Dua gadis itu terhanyut dalam indahnya senja yang tercipta dengan corak orange yang membentang menghiasi langit. Melihat sempurnanya ciptaan Allah yang tiada bisa tertandingi.
            Setelah hampir sepersekian detik mata mereka disuguhi pemandangan yang indah, suara adzan merdu terdengar indah dikedua telinga mereka. Balqis berdiri dan menarik tangan sahabatnya untuk berlari kembali menuju pondok untuk bersiap – siap melanjutkan kegiatan dipondok pesantreen. Senyum mereka berdua mengiringi malam yang kian sempurna menggantikan sang mentari.

1 komentar:

Translate