Selasa, 29 April 2014

Pelangi - (ku) . .



Pelangi-(ku). . .
Kau tahu ? aku kini mulai memperhatikanmu
, memperhatiakan setiap pola garismu
, mencari arti tujuh gradasi warnamu
, dan mencoba berfikir tentang lengkung ajaibmu.
Apa kau mencoba menghipnotisku dengan sejuta keindahanmu ? Memberi pesona indah disetiap senjaku, dan kau selalu hadir saat hujan dihatiku mulai reda serta membuat iri para insan disekitarku.


Me – Ji – Ku – Hi – Bi – Ni – U.
Tujuh warnamu itu ciptakan romantisme senja ini, menerangi ruang kosong hati yang masih basah karena hujan itu.
Kau seakan jelmaan malaikat yang membantuku sadar dari sebuah harapan. Ohh. . GOD apa yang ada difikiranku ? Aku mencoba melukis skema gradasi pelangi itu sementara kanvasku masih ada gambaran sinar Bintang yang terlihat. Ia memang sudah kuhapus, tapi bayangan samar itu masih bisa kulihat, masih ada yang membekas dikanvasku meski kucoba tak peduli.
Pelangi-(ku). .
Kau kah itu ? yang mencoba membuatku melupakan bayang tentang Bintang ?
Kau kah itu ? yang memberiku cahaya lagi setelah kurasa gelap pekat yang tak kunjung pergi ?
dan kau kah itu yang berjanji menghiasai pedihku dengan tujuh pesona warnamu ?
Berhentilah. .
Aku mohon berhentilah, berhenti membuatku bahagia karenamu, dan berhenti pancarkan warnamu disetiap hujanku. Kau tahu ? aku tak bisa ! sangat sulit membuat skema gradasimu karena kanvasku masih basah dan goresan indah warna Bintang itu belum seutuhnya menghilang. Meski aku tahu kini tak ada lagi lukisan sinarnya, karena Bintang-ku kini berada pada sisi lain langit yang tak bisa kulihat, tapi kau tahu kan ? butuh waktu agar kanvasku kering dan kembali siap kugoreskan skema tentang bias cahaya yang baru.
Mengertilah. . ini terlalu cepat, jangan kau anggap remeh hati yang telah luka ? karena sedikitpun luka itu menggores, ia akan butuh waktu lama untuk kering dan sembuh. Dan kali ini bukan hanya goresan, lebih dari itu. Luka itu layaknya koyakan srigala yang hilang kendali karena rasa lapar, menganga dan terlalu parah untuk sembuh secepat yang kau mau.
Pelangi-(ku). .
Me - rah yang kau pancarkan memang menunjukan keberanianmu mengungkapkan sebuah rasa.
Ji - inggamu seperti tulusnya kau memberi cahaya indahmu disetiap hujan yang tercipta dihatiku.
Ku - ning adalah salah satu warna yang memberi kehangatan, dan kau coba berikan kehangatan itu padaku.
Hi - jau yang kau ciptakan seperti hidup-nya hatimu yang mencoba suburkan gersangnya jiwaku.
Bi - rumu kesegaran tanpa batas, membasahi tapi tak menyakiti.
Ni - la yang ada padamu lambang kesederhanaan, dan menerima apapun tentangku.
U - ngu yang kau pancarkan tak ubahnya warna semangat yang kau ciptakan sendiri, dan itu kadang membuatku bersikap gugup saat memandangimu.
But, dari semua keindahan dan sejuta pesona yang kau pancarkan belum membuatku mengakui bahwa aku memutuskan untuk menggenggammu. Kau masih bayang transparan dan masih kucoba raih, tangan ini masih mencoba menggapaimu. Tapi aku tak berjanji, aku tak berjanji akan benar - benar menggenggammu.
Biarkanlah waktu yang akan menjawab semua, semua gundah yang kau rasakan dan semua bimbang yang kini mengelilingiku. Bukankah Tuhan itu adil, jika warna mu tak menghiasi hatiku akan ada hati yang lebih baik dan pantas untuk memiliki tujuh pesonamu itu, dan sebaliknya akan ada cahaya lain yang akan menerangi ruang hatiku. Meskipun itu bukan Bintang-ku atau kau Pelangi-(ku), mungkin akan ada Matahari atau entahlah ! Aku masih menyembuhkan luka, dan tentang cahaya yang akan kugenggam nanti aku harap itu adalah cahaya yang akan memberiku rasa nyaman dan kehangatan serta membasahi gersangnya hati, membasahi tapi tak menyakiti (lagi). :)

I believe the magic of GOD :)
I believe there will be the end of a beautiful love for me :)

And I believe there will be a light that light always illuminate my heart, and that's 'eternal light' :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate