Siang ini pelangi sempurna menampakkan
keindahan tujuh gradasi warnanya, langit pun terlihat indah dan mempesona
menghiasi siang menuju senja yang terang dipantai yang selalu ramai dikunjungi
para insan yang ingin menikmati sunset yang indah. Semua pasang mata memuji
kecantikan ciptaan Tuhan yang satu ini, tapi tidak dengan gadis remaja yang
duduk sendiri diantara riuhnya beberapa kelompok remaja lain.
Gadis
berjilbab biru muda yang duduk diantara pasir tanpa alas itu menerawang jauh
menembus tujuh warna transparan pelangi yang terukir diujung pantai ini. Kerudungnya
berkibar diterpa angin laut, bibir kecilnya tak bergerak sedikitpun, jemari tangannya
memainkan pasir disekitarnya tanpa merasakan halus pasir tersebut, dan matanya
menatap kosong kearah matahari yang beberapa jam lagi akan tenggelam.
Balqis, gadis remaja yang hampir
menginjak dewasa itu berumur 16th. Dia salah satu dari puluhan penghuni pondok
pesantren putri yang terletak tak jauh dari pesisir pantai ini. Balqis selalu
menyempatkan datang ke pantai, dia sangat menyukai laut, menyukai bisikan
lembut angin yang menerpa raut ayu wajahnya, meskipun kadang dia harus melawan
kenangan buruknya. Kenangan yang membuatnya menjadi sosok pendiam dan kenangan
akan hal bodoh yang telah dia lakukan. Siang ini dia mengunjungi pantai itu
sendiri, duduk dibawah pohon yang meneduhkannya serta mencoba menghilangkan
penat yang menyiksa pikirannya.
Balqis mencoba untuk tidak mengingat
kenangan indah bersama keluarganya, karena jika dia mengingatnya akan selalu
ada air mata kesedihan yang pecah menjadi sebuah tangis. Balqis hanya selalu
menyebut kedua orangtuanya dalam do.a, dalam setiap sujud – sujudnya menghadap
Sang Kuasa. Dia menghusyukan diri menghadap-Nya.
Siang menjelang sore ini pantai terlihat
ramai seperti biasa, banyak para remaja lain yang berkelompok bercanda ria
serta ada juga sekelompok keluarga yang ingin menikmati indahnya pantai disore
hari. Melihat keluarga bahagia itu tanpa aba – aba otaknya langsung memutar
kembali kejadian 1 tahun silam, ketika dia harus rela ditinggalkan sang ibu
setelah 3 bulan sebelumnya ditinggalkan oleh sang ayah. Balqis putri satu –
satunya dalam keluarga, sehingga ketika kedua orang tuanya meninggal dia
teramat sangat tertekan, dia belum tahu aturan hidup yang sebenarnya bahkan
sekedar memikirkan untuk melalui hidup itu sendiri pun tangisnya pecah tak
henti, sampai ahirnya Balqis mencoba memutuskan nadinya dengan menekankan
gunting dipergelangan tangan kirinya sebulan setelah kembali kepondok, lalu dia
menceburkan diri kedalam laut. Beruntung ada orang yang menemukan dia dan
segera membawanya kerumah sakit terdekat. Balqis kehabisan banyak darah dan
koma selama 3 hari.
****
“Kriiiinggg”
Bunyi
alarm yang bersahutan dengan kokok ayam yang menandakan sang mentari akan
menggantikan malam memaksa Balqis menyabakkan selimutnya untuk menunaikan
sholat subuh, dia mencoba mengumpulkan kesadarannya dan mengucek – ngucek
matanya yang masih teramat sangat mengantuk. Dia paksakan kakiknya untuk
berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah selesai berwudhu
Balqis menunaikan 2 rokaat wajibnya dan setelah selesai dia keluar dari
kamarnya.
“Selamat
pagi sayang, kau sudah bangun ternyata.” sapa ibunya yang sedang membuka
jendela dengan wajah pucat.
“Pagii
juga Bu, yeahh rasanya baru satu jam lalu aku tidur ehh udah pagi aja. Ibu ?
Ibu terlihat pucat, apa Ibu sakit ?” jawab Balqis manja sambil mendekati
Ibunya.
Mereka
duduk berdua menghadap jendela yang terbuka menampakkan sang fajar yang mulai
muncul.
“Kau
terlalu lelah karena perjalanan
panjangmu nak.” Ibunya mengelus kepalanya dan mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Bagaimana
keadaanmu dipondok ? tak ada masalah kan?.” Lanjut ibunya bertanya.
“Baik
bu, aku mulai menyukai suasana disana. Selain lebih mengerti tentang apa itu
hidup, disana juga aku mempunya banyak teman bu.” Jawab Balqis dengan senyum
yang melengkung indah membuat lesung pipitnya terlihat.
“Syukurlahh,
Ibu kira kau tak akan betah disana.” gurau ibunya sambil mencubit pipi anak
kesayangannya.
“Ahh
Ibu kebiasaan deh (sambil memegangi pipinya) aku betah disana juga karena nasehat
ibu kok.” Balqis mendekat kepada Ibunya dan memeluk Ibunya dengan penuh
kerinduan.
“
Aku sayang Ibu, coba ayah masih disini bersama kita.” Balqis melanjutkan
bicaranya sambil melihat ibunya.
“Nakk,
ayah mu tetap disini (menuntun tangan Balqis untuk menyentuh dadanya), ayahmu
selalu memantau kita dari surga nak, berikan selalu do.amu untuk ayahmu agar
dia tenang dan bahagia disana.” Jawab Ibunya menahan kerinduan yang tak
berujung pula kepada suaminya.
Balqis
tersenyum dan menjawab “ Selalu Bu, Ayah dan Ibu adalah dua orang yang selalu
kusebut dalam setiap sujudku.” Dia memeluk erat Ibunya.
Suasana liburan Balqis dirumah penuh
keceriaan, dia belajar memasak, pergi kepasar, membuat kue dan jalan – jalan
bersama ibunya. Balqis tak tahu kalau Ibunya menyembunyikan penyakitnya dari
dia, karena Ibunya tak mau membuat Balqis sedih atau kecewa. Sampai ahirnya,
satu minggu sebelum Balqis kembali kepondok untuk melanjutkan belajarnya,
Ibunya tiba – tiba pingsan ketika sedang menyapu halaman. Balqis yang sedari tadi
dikamar kaget melihat ibunya sudah terbaring lemah ditanah saat membuka jendela
kamarnya.
“Ibuu.
.” Balqis lari menuju Ibunya yang tak sadarkan diri
“Ibuu..
Ibu kenapa ? Bangun Buu bangunn,, ya allah, tolongg tolong..” isak Balqis
sambil membangunkan Ibunya.
Tak
lama kemudian ada beberapa orang yang mendengar teriakan Balqis menangis
dihalaman rumahnya.
“Balqis..
kenapa Ibumu Nak?.” Tanya Pak Rusman dengan nada yang sontak membuat Balqis
kaget.
“Pak..
tolong Ibu Balqis pak, tolong.” Balqis tak mempedulikan pertanyaan Pak Rusman.
“Tenang
Nakk, ayoo langsung kita bawa kerumah sakit saja.” Kata Pak Rusman memberi aba
– aba kepada 2 orang lainnya. Balqis hanya mengangguk dan langsung mengikuti
dibelakang.
Sesampainya dirumah sakit Ibunya
langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa. Balqis terus menangis karena
selama ini Ibunya tak mengeluhkan penyakit atau sekedar bilang bahwa Ia sedang kurang
sehat. Pak Rusman mencoba menenangkan Balqis dengan sedikit kemungkinan yang
baik.
“Balqis,,
Ibumu pasti baik – baik saja Nak.” Kata Pak Rusman.
Balqis
hanya diam dan berdo.a agar ibunya baik – baik saja. Tak lama kemudian dokter
membuka ruang UGD dengan ekspresi yang tak bisa ditebak oleh Balqis. Dia
langsung menghampiri Pak Dokter yang sedang menutup pintu.
“Pak.
. bagaimana keadaan Ibu saya ? dia baik – baik saja kan ?”. tanya Balqis tak
sabaran.
“Iya
Pak bagaimana keadaan Bu Roro”. Lanjut Pak Rusman memperjelas.
Pak
Dokter terdiam cukup lama membuat hati Balqis semakin tak karuan.
“Maaf
Pak, Nak,, kami telah berusaha memberi pertolongan secepat dan terbaik, tapi
Tuhan berkehendak lain. Beliau sudah tidak ada tepat setelah masuk ruang UGD”.
Jelas Pak Dokter yang secara tidak langsung memberi tamparan keras kepada
Balqis.
Balqis
diam mencermati kalimat Pak Dokter yang terlalu panjang itu. Pak Rusman pun
segera meminta penjelasan lebih kepada dokter yang telah memberi penjelasan.
“Maksud
bapak, Bu Roro sudah. . “. Kalimatnya menggantung yang disertai tubuh Balqis
yang mendadak jatuh kelantai. Pak Rusman dan dokter lansung membopong Balqis ke
deretan kursi.
“Innalillahi
wa innailahi roojiunn..”. Pak Rusman meneteskan air mata demi mengingat
kebaikan yang selalu Bu Roro lakukan.
“Ya
Allah tabahkanlah Balqis, beri dia kekuatan serta ketabahan demi menjalani
cobaan ini”. Do.a Pak Rusman sementara tangannya masih memegangi Balqis yang
belum sadarkan diri.
Jenazah Ibunya dibawa kerumah untuk
dimandikan dan disholati. Balqis telah sadar dan duduk disamping kanan tubuh
Ibunya yang terbujur kaku sambil terus menerus meneteskan air mata. Balqis
menyesal kenapa waktu awal dia pulang dan melihat raut wajah Ibunya pucat tak
langsung bertanya dan membawanya ke dokter.
Merdunya bacaan ya-sin yang tak henti –
hentinya terdengar membuat Balqis merasa mati rasa, jiwanya hidup tapi hatinya
kosong. Tak ada semangat lagi untuk berjalan dalam putaran roda kehidupan, kini
hanya dia sendiri, tak ada lagi Ayah dan Ibunya yang akan memarahi dan
menasehati dia ketika salah ataupun benar. Hanya sanak saudara yang ada, itupun
tak membuat Balqis merasa tenang.
Setelah disholati jenazah ibunya segera
dimakamkan, Balqis mengiringi Ibunya untuk yang terahir kalinya, memanjatkan
segala do.a terbaik untuk Ibunya.
1
Minggu kemudian.
Balqis duduk didepan jendela
kamarnya, memandang keluar jendela dan menatap langit. Awan seakan melukiskan
raut bahagia Ibunya, Balqis tersenyum dan tak lama kemudian menangis lagi.
Entah sudah berapa juta air mata yang keluar dari pelupuk matanya, tak
terhitung.
“Ibumu
akan sedih jika melihatmu menangis terus sayang”. seseorang mendekatinya,
Balqis kaget saat mendengar Tantenya tiba – tiba datang.
“
Dan bodohnya Balqis tak tahu caranya untuk berhenti menangis Tante”. Jawab
Balqis dengan tatapan sayu dan nada yang terdengar seperti rintihan.
“
Sayang, Allah menyayangi Ibumu. Maka dari itu Dia meminta Ibumu kembali kesisinya”.
Peluk Tantenya yang tak tega melihat keponakannya menagis terus.
“Tapi
kenapa secepat ini Tante, Aku bahkan belum sedikitpun membalas atas hidupku
disini. Ibu melahirkanku, tak pernah membuatku sedih. Dia selalu mengerti aku
dan dia baik, bahkan teramat sangat baik”. Tanya Balqis seakan meminta
penjelasan yang dapat Ia mengerti.
“Balqis,,
Allah mempunyai rencana indah untukmu. Kuatlah, lanjutkan belajarmu di
pesantren dan Ibumu pasti akan bahagia melihatmu lulus nanti”. Jawab Tantenya
menasehati.
Hanya
diam dan diam yang Balqis lakukan semenjak kepergian ibunya, Balqis yang
sebelumnya ceria dan aktif kini berubah
menjadi sosok yang pendiam, penyendiri dan tak menyukai keramaian.
Tepat 8 hari Ibunya meninggal
ahirnya Balqis memutuskan untuk kembali ke pondok pesantren, dengan pemikiran
bahwa akan lebih mudah melupakan segala kesedihaan dan untuk bisa bahagia lagi
disana. Sanak saudara menyetujui keputusan Balqis dan dengan diantar Tantenya
Balqis kembali kepondok.
Sesampainya dipondok Balqis disuguhi
perhatian lebih dan ucapan belasungkawa dari para ustadz, ustadzah serta teman
– temannya. Balqis sekedar memperlihtkan sedikit simpul senyum yang terlihat
terpaksa. Teman sekamarnya Nurul selalu menghibur dan mencoba membuat Balqis
tertawa lagi, tapi satu bulan sudah berbagai macam cara Nurul lakukan untuk
membuat Balqis tersenyum tapi hasilnya nihil. Balqis tetap diam dan selalu
menghindar ketika teman – temannya menghibur.
Balqis merasa jenuh dengan
keadaannya sekarang, tak ada semangat seperti pertama kali dia datang kepondok
pesantren ini. Sampai ahirnya pada suatu sore yang mendung Balqis berjalan
menuju pantai, dikoridor pondok menuju gerbang besar penjara suci itu Balqis
berpapasan dengan Nurul teman sekamarnya.
“Balqiss.
. kau mau kemana ? sebentar lagi adzan ashar berkumandang, kita harus bersiap –
siap ke masjid sekarang. Ayoo”. Nurul menarik tangan Balqis yang terasa
berkeringat dan dingin.
“Emm..
sebaiknya kau dulu Rul yang bersiap – siap, aku ingin ke pantai sebentar. Aku
merindukan Ayah dan Ibuku”. Balqis dengan senyumnya melepaskan pegangan Nurul.
Nurul
heran, baru kali ini setelah Balqis kembali kepondok dia tersenyum setulus itu.
Nurul pun mengangguk menuruti kata Balqis.
“Semoga
senyum itu adalah awal kebahagiaanmu lagi teman, aku dan kita semua disini merindukan
keceriaanmu”. Dalam hati Nurul berkata.
Nurul kembali berjalan kekamarnya untuk
mengambil mukenah dan siap – siap ke masjid, sedangkan Balqis menuju pantai
dengan niat yang sejak malam dia pikirkan. Ini keputusan yang salah mungkin,
tapi Balqis telah merasa lelah. Dia berpikir, tak ada alasannya dia hidup.
“Untuk
apa aku hidup, untuk siapa aku bertahan ? Ayah, Ibu. . maafkan aku, mungkin ini
keputusan yang salah. Tapi aku tak bisa tanpa kalian”. Balqis terus berbicara
dan memohon ampun kepada Allah dan kedua orang tuanya.
Sesampainya
dipantai, Balqis terus berjalan sampai kakinya tersentuh air. Langit sore ini
terlihat mendung, tak ada mega merah atau orange dilangit. Hanya ada awan hitam
yang menutupi birunya langit.
Balqis mengambil gunting disaku
roknya, dia memikirkan kembali apa yang ingin dia lakukan. Matanya menerawang
sekitarnya, mencoba menikmati hembusan angin yang mungkin untuk terahir kalinya
dia rasakan. Ombak seakan bersahutan memanggil namanya, membuat hati dan
pikiran Balqis benar – benar kosong. Perlahan dia menekan nadi tangan kirinya
dengan gunting yang menghasilkan aliran darah segar yang keluar deras.
“Agghhh.
. “. Balqis menahan rasa sakit itu dan membiarkan darah terus mengalir.
“Ayah,
Ibu, , aku ingin bertemu dengan kalian. Tunggu aku”. Balqis tersenyum dalam
kesakitannya.
Tubuhnya
mulai lemah, pandangannya kabur. Sedetik kemudian dia melihat kebelakang, ada
Nurul disana. Balqis kaget melihat Nurul yang mulai mengejarnya, Balqis tak
tahu kalau sedari tadi Nurul mengikutinya.
“Baaalllqqiiiss.
. .”. Nurul berlari menerjang apapun yang didepannya, tubuh Balqis sudah jatuh
kedalam air.
“Toloongg..
tolongg..”. Nurul berteriak dalam isak tangisnya melihat teman baiknya mulai
terbawa arus.
Semua orang yang mendengar teriakan
Nurul, berhamburan menuju sumber suara. Nurul menceburkan diri dan terus berlari
mengejar tubuh Balqis, dan ahirnya dia meraih tangan Balqis dan melihat goresan
panjang ditangannyaBeberapa orang lelaki membantunya membawa Balqis ketepi
pantai, dan an Balqis segera dibawa kerumah sakit.
****
“Apakah
ini surga ?”. pertanyaan pertama saat dia sadar membuat sosok paruh baya yang
senantiasa menemaninya merasa kaget dan senang juga. Jemari lentiknya bergerak
– gerak dan matanya mulai terbuka dan sadar.
“Nak,,
alhamdulillah kamu sudah sadar” ucap Ustadzah Risma saat melihat Balqis mulai
sadar.
“Sa.
. saya dimana ?” jawab Balqis sambil memegangi kepalanya yang pusing karena
terlalu lama tertidur.
“Balqis.
.kamu dirumah sakit, kamu melakukan hal bodoh yang seharusnya tak pernah kau
lakukan”. Bu Risma menjawab serta mencoba mengingatkan Balaqis
“Istirahatlah,
kamu belum pulih sepenuhnya”. Lanjut Ustadzah Risma yang melihat Balqis terlalu
lemah.
Tangis
Balqis pecah dan Dia meminta maaf karena telah mencoba bunuh diri karena
terlalu putus asa.
“Balqis
sayang, bukan seperti itu caramu mengatasi masalahmu nak. Allah benci hambanya
yang mudah putus asa.” Ustadzah Risma menasihati Balqis dengan penuh keibuan.
Balqis
hanya diam dan menyesali perbuatan bodohnya. Keesokan harinya Balqis terbangun
ketika sang mentari telah menebarkan cahayanya keseluuruh penjuru, matanya
terasa sangat panas dan mencoba terbuka ketika sinar kecil yang masuk melalui
celah jendela tepat menusuk matanya.
Balqis kembali kepondok setelah 10
hari dirawat dirumah sakit, Nurul adalah orang pertama yang sangat bahagia
dengan kembalinya Balqis. Balqis pun menyesali segala kelakuan bodoh yang telah
dia lakukan. Dia baru menyadari bahwa banyak orang yang menyayanginya. Bahkan
lebih banyak dari yang dia fikirkan.
“Tuhan, maafkan segala kebodohan dan keputus
asaanku dalam menghadapi segala cobaan-Mu”. Balqis berdo.a setelah sholat
subuh.
Air
matanya deras mengalir saat memori otaknya mengulang lagi kejadian sore yang
mendung di pantai. Dia berfikir, pasti Ayah dan Ibunya kecewa melihat sikap
Balqis yang ceroboh dan mudah berputus asa.
Setelah kembalinya Balqis kepondok
pesantren, Balqis lebih ceria dari biasanya. Senyumnya kembali, dan hampir
semua penghuni pondok merasa bahagia karena salah satu penghuni pondok yang
terkenal baik dan ramah itu kembali.
Balqis
menyesali perbuatannya, menjadi lebih sering menghadap Allah dalam sujud –
sujud wajib dan sunnahnya. Semangatnya kembali, menjadikan dia mudah menghadapi
masalah dengan kepala dingin.
Dari semua masalah yang singgah
dalam kehidupannya, Balqis semakin termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya
dipondok. Membuat bangga almaarhumah kedua orangtuanya yang tak mendampingi
Balqis selama perjalanannya.
*****
“Heyy,,
sedang apa kau disini ?”. tanya NU\urul mengagetkan Balqis yang sedari tadi
melamun mengulang kejadian 1 tahun silam.
“ehh,
kau ini, hobi sekali mengagetkan orang”. Jawab Balqis yang sontak memukul kaki
Nurul.
“Haha,,
apa kamu mau coba bunuh diri lagi, hahh ?”. tanya Nurul yang sedikit sebal
mengingat kejadian itu.
“Ahh,,
apa – apaan kamu ini, datang – datang langsung bicara yang tidak – tidak. Menyebalkan
!”. dengus Balqis yang langsung mengalihkan pandangannya.
“Bercanda
sayang, aku nggak mau kamu bertindak bodoh lagi”. Jawab Nurul sambil
merangkulkan tangannya kepundak Balqis dan ikut duduk disamping Balqis sambil
tersenyum.
Balqis hanya tersenyum melihat
sahabatnya yang kadang menyebalkan ini menjadi seromantis dan puitis menyaingi
Kahlil Gibran.
Mereka
berdua menikmati senja dipantai itu dengan melihat sunset yang terlihat
sempurna, tenggelam diantara panjangnya
garis pantai yang entah dimana ujungnya. Dua gadis itu terhanyut dalam indahnya
senja yang tercipta dengan corak orange yang membentang menghiasi langit. Melihat
sempurnanya ciptaan Allah yang tiada bisa tertandingi.
Setelah hampir sepersekian detik
mata mereka disuguhi pemandangan yang indah, suara adzan merdu terdengar indah
dikedua telinga mereka. Balqis berdiri dan menarik tangan sahabatnya untuk
berlari kembali menuju pondok untuk bersiap – siap melanjutkan kegiatan
dipondok pesantreen. Senyum mereka berdua mengiringi malam yang kian sempurna
menggantikan sang mentari.
good (y) :)
BalasHapus