Jumat, 28 Februari 2014

Setangkai Edelweiss



Edelweiss. .
Bagi para pecinta alam bunga ini memang sudah tak asing lagi terdengar ditelinga mereka, karena bunga ini adalah salah satu symbol petualangan yang tak jarang orang memilikinya. Entah itu dari petualangannya sendiri atau bahkan dari someone special sebagai bentuk cinta mereka (Apa iya ? entahlah).
Edelweiss atau Everlasting Flower ini adalah bunga Leontopodium yang sangat menyukai sinar matahari penuh. Biasanya disebut dengan ‘Bunga Abadi’ juga, kok bisa ? ya bisa lah, suka – suka mereka yang menyebutnya dong ( haha, enggak bercanda). Sebenarnya kenapa bunga edelwaeiss itu disebut dengan bunga abadi karena bunga ini bertahan hidup cukup lama so,  mungkin karena itu bunga edelweiss juga disebut dengan bunga abadi.
Nama Latin dari bunga abadi ini adalah Anaphalis Javanica (ciyee, pinter banget,,padahal mah itu dapet dari mbah google :D). Bunga ini terlihat pada bulan April – Agustus dan fase mekar terbaiknya adalah bulan Juli – Agustus. Bunga edelweiss ini termasuk kedalam tumbuhan yang dilindungi lho, walaupun masih banyak para pendaki yang
ketahuan colong – colongan memetiknya.
So, berhentilah memetiknya !! (haha, padahal sendirinya pingin banget metik -_-).

Itu sedikit deskripsi tentang sicantik edelweiss yang aku tahu, tapi cerita ini bukan membahas sejarah atau asal - usul dari bunga edelweiss, tapii ‘Setangkai Edelweis’ milik aku, iya milikku ( jangan protes tentang larangan memetik edelweiss diatas lhoo, karena ‘Setangkai Edelweis’ ini pemberian ).
Okeh cekidot deh langsung aja ketitik permasalahannya, ehh ,maksudnya kecerita awalnya.

*****

Malam itu bulan tak seterang biasanya, dan bintang pun seakan menghilang tak terlihat menampakkan sinarnya. Tapi tidak dengan hatiku, ada satu titik cahaya yang bersinar sangat terang disana. Cinta ! Iya, tiba – tiba cahaya cinta bersinar sangat terang ketika dia yang mengukir sinar itu hadir dihadapanku, memberi senyum dan tatapan yang selalu kurindukan. Dan yeahh jangan ditanya bagaimana perasaanku malam itu, karena itu akan sulit dijelaskan dalam bentuk apapun. Singkatnya aku bahagia dan itu teramat sangat bahagia ( hiperbola = berlebihan :D ).
Senyumnya menyambutku dengan hangat, dan itu sungguh senyum indah yang sangat ingin aku miliki. Senyum yang selalu ingin aku lihat disetiap waktu, bahkan ketika rasa sesak dihati menghampiri pun hanya senyum itu yang ingin sekali aku lihat untuk sekedar menenangkan rasa sesak didada.
Bukan hanya dengan senyuman saja dia menampilkan aura keindahannya, karena tatapan sayu khas miliknya pun selalu membuatku nyaman dan merasa tenang ketika berada didekatnya.
Intinya dia adalah seseorang yang mampu menghipnotisku hanya dengan sebuah senyuman dan tatapan sayu indah khas miliknya.

Aku masih sangat jelas mengingatnya, ketika dia datang dengan membawa setangkai edelweiss dan sebuah novel 'Ketika Tuhan Jatuh Cinta’. Rasanya detak jantung ini mengalahkan suara jangkrik yang sejak tadi bernyanyi mengiringi dinginnya malam ini.
Ohh Tuhan, apa dia tahu kalau aku sedang menahan teriakan bahagia karena dia telah menebarkan beribu serbuk cinta yang kini mulai menyebar melalui aliran darahku, aku hanya berdo’a semoga dia tak mendengar badai yang sedang bergemuruh sangat hebat dihatiku.
Walaupun aku rasa tak mungkin juga dia mendengar detak jantung yang sangat cepat ini, tapi mungkin raut wajahku sudah hampir mirip kepiting rebus saat ini, alias merah merona karena menahan sesak bahagia.
Pertemuan yang sudah sekian kalinya itu masih membuat kita sedikit diam dan tak tahu apa yang harus mulai kita bicarakan. Dan pertemuan ini semakin membuatku berharap akan dirinya, meski aku tahu ‘terlalu berharap itu menyakitkan’ but, faktanya sudah beribu cara untuk menghilangkan rasa untuknya pun tak pernah bisa menghapus seluruh rasa ini. Mungkin cinta itu terlalu mengakar dihati, jadi susah kan buat menebangnya (dikiranya pohon kalii yaa, hehe ).
Aku sempat berfikir seperti ini “ Kau terus menerus datang dan hadir membawa senyuman itu dihadapanku tapi kenapa kau masih tak membawa hatimu untukku” , itu adalah sebuah pertanyaan dari hati yang terus meminta jawaban karena hati ini terlalu rapuh untuk terus memendam rasa. Atau kau memang seseorang yang tak pernah peka terhadap perasaan seseorang terhadapmu ? ah sudahlah, aku tak mau memikirkannya.

Malam itu ‘Setangkai Edelweiss’ menjadi saksi betapa rasa ini teramat dalam untukmu, dan mungkin jika memang ‘Setangkai Edelweiss’ ini kau berikan untuk mewakili hatimu, aku akan lebih merasa bahagia dan berusaha menjaganya dengan baik. Seperti halnya aku yang selalu berusaha menjaga hati ini untukmu, dan Tuhan juga tahu apa yang aku rasakan, bahkan Tuhan mengirimmu untukku atas dasar kebahagiaan. Walau kau tak pernah tahu itu, tapi setidaknya kini kita telah sama – sama tahu bahwa perasaan kita ‘SAMA’.
            ‘Setangkai Edelweiss’ itu masih rapi dan terlihat cantik diantara beberapa aksesories diatas meja rias kamarku, dan entah ini hanya perasaan belaka atau memang benar, disetiap aku benar – benar merindukanmu aroma edelweiss itu akan terasa menyengat memenuhi ruangan persegi kamarku, yeah mungkin aroma edelweiss itu tak seharum mawar merah tapi aku selalu merasa lebih tenang jika mengingat pemberi sicantik edelweiss itu.

Setangkai edelweiss itu menyimpan sejuta ceritaku, iya. . cerita tentang rasa yang kumiliki, cerita dikala aku benar – benar sangat merindukanmu, bahkan cerita saat kumulai lelah menunggumu dan tentunya cerita tentang cinta yang telah lama hadir dihati ini”.
Mungkin jika saja edelweiss itu punya alat untuk berkomunikasi, ia akan menyampaikannya padamu. Apa aku terlihat bodoh dengan kata – kata itu ? yeah bukankah kadang cinta membuat kita bodoh ? terlihat sedikit berlebihan mengartikan suatu hal. Dan itu nyata !!
Walaupun aku sadar bahwa sicantik edelweiss itu hanya tumbuhan , dan sekedar keindahan alam yang menyejukan mata. Tapi bodohnya aku masih berharap jika edelweiss itu akan menyampaikannya. :D

                  Itu sedikit cerita tentang sicantik edelweiss yang terlihat konyol, tapi menyenangkan jika mengingatnya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate