Edelweiss. .
Bagi para pecinta alam bunga ini memang
sudah tak asing lagi terdengar ditelinga mereka, karena bunga ini adalah salah
satu symbol petualangan yang tak jarang orang memilikinya. Entah itu dari
petualangannya sendiri atau bahkan dari someone special sebagai bentuk cinta
mereka (Apa iya ? entahlah).
Edelweiss atau Everlasting Flower ini
adalah bunga Leontopodium yang sangat
menyukai sinar matahari penuh. Biasanya disebut dengan ‘Bunga Abadi’ juga, kok
bisa ? ya bisa lah, suka – suka mereka yang menyebutnya dong ( haha, enggak
bercanda). Sebenarnya kenapa bunga edelwaeiss itu disebut dengan bunga abadi
karena bunga ini bertahan hidup cukup lama so, mungkin karena itu bunga edelweiss juga
disebut dengan bunga abadi.
Nama Latin dari bunga abadi ini adalah Anaphalis Javanica (ciyee, pinter
banget,,padahal mah itu dapet dari mbah google :D). Bunga ini terlihat pada
bulan April – Agustus dan fase mekar terbaiknya adalah bulan Juli – Agustus.
Bunga edelweiss ini termasuk kedalam tumbuhan yang dilindungi lho, walaupun
masih banyak para pendaki yang
ketahuan colong – colongan memetiknya.
ketahuan colong – colongan memetiknya.
So,
berhentilah memetiknya !! (haha, padahal sendirinya pingin banget metik -_-).
Itu sedikit deskripsi tentang sicantik
edelweiss yang aku tahu, tapi cerita ini bukan membahas sejarah atau asal -
usul dari bunga edelweiss, tapii ‘Setangkai Edelweis’ milik aku, iya milikku (
jangan protes tentang larangan memetik edelweiss diatas lhoo, karena ‘Setangkai
Edelweis’ ini pemberian ).
Okeh
cekidot deh langsung aja ketitik permasalahannya, ehh ,maksudnya kecerita
awalnya.
*****
Malam itu bulan tak seterang biasanya,
dan bintang pun seakan menghilang tak terlihat menampakkan sinarnya. Tapi tidak
dengan hatiku, ada satu titik cahaya yang bersinar sangat terang disana. Cinta
! Iya, tiba – tiba cahaya cinta bersinar sangat terang ketika dia yang mengukir
sinar itu hadir dihadapanku, memberi senyum dan tatapan yang selalu kurindukan.
Dan yeahh jangan ditanya bagaimana perasaanku malam itu, karena itu akan sulit
dijelaskan dalam bentuk apapun. Singkatnya aku bahagia dan itu teramat sangat
bahagia ( hiperbola = berlebihan :D ).
Senyumnya menyambutku dengan hangat, dan
itu sungguh senyum indah yang sangat ingin aku miliki. Senyum yang selalu ingin
aku lihat disetiap waktu, bahkan ketika rasa sesak dihati menghampiri pun hanya
senyum itu yang ingin sekali aku lihat untuk sekedar menenangkan rasa sesak
didada.
Bukan
hanya dengan senyuman saja dia menampilkan aura keindahannya, karena tatapan
sayu khas miliknya pun selalu membuatku nyaman dan merasa tenang ketika berada
didekatnya.
Intinya
dia adalah seseorang yang mampu menghipnotisku hanya dengan sebuah senyuman dan
tatapan sayu indah khas miliknya.
Aku masih sangat jelas mengingatnya,
ketika dia datang dengan membawa setangkai edelweiss dan sebuah novel 'Ketika
Tuhan Jatuh Cinta’. Rasanya detak jantung ini mengalahkan suara jangkrik yang
sejak tadi bernyanyi mengiringi dinginnya malam ini.
Ohh
Tuhan, apa dia tahu kalau aku sedang menahan teriakan bahagia karena dia telah
menebarkan beribu serbuk cinta yang kini mulai menyebar melalui aliran darahku,
aku hanya berdo’a semoga dia tak mendengar badai yang sedang bergemuruh sangat
hebat dihatiku.
Walaupun
aku rasa tak mungkin juga dia mendengar detak jantung yang sangat cepat ini, tapi
mungkin raut wajahku sudah hampir mirip kepiting rebus saat ini, alias merah
merona karena menahan sesak bahagia.
Pertemuan yang sudah sekian kalinya itu masih
membuat kita sedikit diam dan tak tahu apa yang harus mulai kita bicarakan. Dan
pertemuan ini semakin membuatku berharap akan dirinya, meski aku tahu ‘terlalu
berharap itu menyakitkan’ but, faktanya sudah beribu cara untuk menghilangkan
rasa untuknya pun tak pernah bisa menghapus seluruh rasa ini. Mungkin cinta itu
terlalu mengakar dihati, jadi susah kan buat menebangnya (dikiranya pohon kalii
yaa, hehe ).
Aku sempat berfikir seperti ini “ Kau
terus menerus datang dan hadir membawa senyuman itu dihadapanku tapi kenapa kau
masih tak membawa hatimu untukku” , itu adalah sebuah pertanyaan dari hati yang
terus meminta jawaban karena hati ini terlalu rapuh untuk terus memendam rasa.
Atau kau memang seseorang yang tak pernah peka terhadap perasaan seseorang
terhadapmu ? ah sudahlah, aku tak mau memikirkannya.
Malam itu ‘Setangkai Edelweiss’ menjadi
saksi betapa rasa ini teramat dalam untukmu, dan mungkin jika memang ‘Setangkai
Edelweiss’ ini kau berikan untuk mewakili hatimu, aku akan lebih merasa bahagia
dan berusaha menjaganya dengan baik. Seperti halnya aku yang selalu berusaha
menjaga hati ini untukmu, dan Tuhan juga tahu apa yang aku rasakan, bahkan
Tuhan mengirimmu untukku atas dasar kebahagiaan. Walau kau tak pernah tahu itu,
tapi setidaknya kini kita telah sama – sama tahu bahwa perasaan kita ‘SAMA’.
‘Setangkai Edelweiss’ itu masih rapi
dan terlihat cantik diantara beberapa aksesories diatas meja rias kamarku, dan
entah ini hanya perasaan belaka atau memang benar, disetiap aku benar – benar
merindukanmu aroma edelweiss itu akan terasa menyengat memenuhi ruangan persegi
kamarku, yeah mungkin aroma edelweiss itu tak seharum mawar merah tapi aku
selalu merasa lebih tenang jika mengingat pemberi sicantik edelweiss itu.
Setangkai
edelweiss itu menyimpan sejuta ceritaku, iya. . cerita tentang rasa yang
kumiliki, cerita dikala aku benar – benar sangat merindukanmu, bahkan cerita
saat kumulai lelah menunggumu dan tentunya cerita tentang cinta yang telah lama
hadir dihati ini”.
Mungkin
jika saja edelweiss itu punya alat untuk berkomunikasi, ia akan menyampaikannya
padamu. Apa aku terlihat bodoh dengan kata – kata itu ? yeah bukankah kadang
cinta membuat kita bodoh ? terlihat sedikit berlebihan mengartikan suatu hal.
Dan itu nyata !!
Walaupun
aku sadar bahwa sicantik edelweiss itu hanya tumbuhan , dan sekedar keindahan
alam yang menyejukan mata. Tapi bodohnya aku masih berharap jika edelweiss itu
akan menyampaikannya. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar