Rabu, 12 Maret 2014

Aku Berhenti Disini. .



Langkah ini tak lagi seperti kemarin saat aku masih bergegas berjalan diantara jalan bebatuan yang sempit. Aku berhenti ! lebih tepatnya ‘TERHENTI’

Rasa ini tak lagi sama, iya mungkin masih ada tapi tak sekuat dulu. Untuk sekedar mengingat pun butuh kekosongan yang sangat sulit kulakukan.
“Apa ini jawaban Tuhan ?” itu yang selalu kufikirkan, entahlah. .aku terlalu bodoh untuk mencerna semua hal yang terjadi saat ini.
“ Aku tak ingin kau pergi, tapi aku tetap tak bisa menahan rasa ini pergi “, dan aku benci ketika itu terjadi hari ini, tapi bukan kau yang pergi meninggalkanku. Tapi rasa yang sangat kuat dihatiku kini mulai melemah. Aku terlalu rapuh untuk mempertahankan rasa itu, dan efeknya kini rasa ini tak sekuat seperti setahun yang lalu. Itu juga karena kau ! kau yang seakan tak pernah peduli dengan rasa ini walau kau tahu dan merasakannya juga.

“Aku mencintaimu”. Aku sangat bahagia saat itu, kiranya satu tahun yang lalu ketika ucapan itu kau
katakan dengan penuh hati – hati dan pelan tapi pasti. Kebahagiaan itu masih berlanjut untuk hari berikutnya, bulan berikutnya dan kemarin. Tapi hari ini aku tak merasakannya, sedikitpun.
Hati ini mulai pada titik terjenuhnya, berhenti merasakan dan berpaling (mungkin).
Aku berhenti pada harapanku tentangmu, aku berhenti pada satu titik ketika mulai menyadari aku hanya berjalan tanpa ada kau diujung jalan itu.
Aku sendiri, dan apa yang akan terjadi jika aku tetap berjalan tapi diujung jalan sana aku tak menemukanmu, hanya aku sendiri. Itu akan membuatku terjatuh sangat dalam, untuk sampai disini saja aku berkali – kali terjatuh, tersandung, dan tersesat.
Langkah ini tak lagi seperti kemarin saat aku masih bergegas berjalan diantara jalan bebatuan yang memang sempit. Aku berhenti ! lebih tepatnya ‘TERHENTI’
Bukan aku yang menginginkan ini, tapi ada sesuatu yang membuatku berhenti berjalan ‘ketidakpastian’ itu adalah salah satu diantara sejuta alasan aku berhenti. Mungkin aku terlalu berfikiran negative tapi faktanya itulah yang terjadi hampir satu tahun ini.
Kita berjalan, ohh maksudku aku sendirian berjalan menyusuri satu arah ini. Dulu memang KITA berjanji untuk selalu bersama dalam menyusuri jalan itu, tapi kau mengatakan “ Aku menunggumu diujung jalan, berjalanlah” dengan nada suara yang asing kudengar kau mendahuluiku tanpa menggandeng tanganku lagi. Kini hanya aku senidri mengarungi terjalnya jalan sempit ini, begitu jauhh sampai disini.
Dititik sekarang aku berdiri, aku tak lagi melihat jejakmu, sebelumnya kau selalu meninggalkan jejak walau hanya aku yang bisa melihatnya. Tapi saat ini, jejak itu menghilang.
Aku tak melihatnya lagi, aku kembali kebelakang sebelum titik itu dan disitu masih ada jejakmu.
“Kearah mana kau berlari ? apa kau terbang menuju jalan yang lain ?” Hatiku berbisik, dan aku mulai melihat sekelilingku, tak ada seorangpun disini. Hanya ada aku, angin dan beberapa pohon yang terlihat menertawakanku.

        Aku benci mengatakan ini “ Aku tak bisa berjalan lagi menuju ujung jalan tak pasti itu, aku hanya bisa berhenti disini dan tak tahu sampai kapan dan entah siapa yang akan menggandeng tanganku lagi untuk menuju ujung jalan yang lain”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate