Langkah ini tak
lagi seperti kemarin saat aku masih bergegas berjalan diantara jalan bebatuan
yang sempit. Aku berhenti ! lebih tepatnya ‘TERHENTI’
Rasa ini tak lagi sama, iya mungkin
masih ada tapi tak sekuat dulu. Untuk sekedar mengingat pun butuh kekosongan
yang sangat sulit kulakukan.
“Apa
ini jawaban Tuhan ?” itu yang selalu kufikirkan, entahlah. .aku terlalu bodoh
untuk mencerna semua hal yang terjadi saat ini.
“ Aku tak ingin kau pergi, tapi aku tetap
tak bisa menahan rasa ini pergi “, dan aku benci ketika itu terjadi hari ini,
tapi bukan kau yang pergi meninggalkanku. Tapi rasa yang sangat kuat dihatiku
kini mulai melemah. Aku terlalu rapuh untuk mempertahankan rasa itu, dan
efeknya kini rasa ini tak sekuat seperti setahun yang lalu. Itu juga karena kau
! kau yang seakan tak pernah peduli dengan rasa ini walau kau tahu dan
merasakannya juga.
“Aku mencintaimu”. Aku sangat bahagia
saat itu, kiranya satu tahun yang lalu ketika ucapan itu kau
katakan dengan
penuh hati – hati dan pelan tapi pasti. Kebahagiaan itu masih berlanjut untuk
hari berikutnya, bulan berikutnya dan kemarin. Tapi hari ini aku tak
merasakannya, sedikitpun.
Hati
ini mulai pada titik terjenuhnya, berhenti merasakan dan berpaling (mungkin).
Aku
berhenti pada harapanku tentangmu, aku berhenti pada satu titik ketika mulai
menyadari aku hanya berjalan tanpa ada kau diujung jalan itu.
Aku
sendiri, dan apa yang akan terjadi jika aku tetap berjalan tapi diujung jalan
sana aku tak menemukanmu, hanya aku sendiri. Itu akan membuatku terjatuh sangat
dalam, untuk sampai disini saja aku berkali – kali terjatuh, tersandung, dan
tersesat.
Langkah ini tak lagi seperti kemarin
saat aku masih bergegas berjalan diantara jalan bebatuan yang memang sempit.
Aku berhenti ! lebih tepatnya ‘TERHENTI’
Bukan
aku yang menginginkan ini, tapi ada sesuatu yang membuatku berhenti berjalan
‘ketidakpastian’ itu adalah salah satu diantara sejuta alasan aku berhenti.
Mungkin aku terlalu berfikiran negative tapi faktanya itulah yang terjadi hampir
satu tahun ini.
Kita berjalan, ohh maksudku aku sendirian
berjalan menyusuri satu arah ini. Dulu memang KITA berjanji untuk selalu
bersama dalam menyusuri jalan itu, tapi kau mengatakan “ Aku menunggumu diujung
jalan, berjalanlah” dengan nada suara yang asing kudengar kau mendahuluiku
tanpa menggandeng tanganku lagi. Kini
hanya aku senidri mengarungi terjalnya jalan sempit ini, begitu jauhh sampai
disini.
Dititik sekarang aku berdiri, aku tak
lagi melihat jejakmu, sebelumnya kau selalu meninggalkan jejak walau hanya aku
yang bisa melihatnya. Tapi saat ini, jejak itu menghilang.
Aku
tak melihatnya lagi, aku kembali kebelakang sebelum titik itu dan disitu masih
ada jejakmu.
“Kearah
mana kau berlari ? apa kau terbang menuju jalan yang lain ?” Hatiku berbisik,
dan aku mulai melihat sekelilingku, tak ada seorangpun disini. Hanya ada aku,
angin dan beberapa pohon yang terlihat menertawakanku.
Aku
benci mengatakan ini “ Aku tak bisa berjalan lagi menuju ujung jalan tak pasti
itu, aku hanya bisa berhenti disini dan tak tahu sampai kapan dan entah siapa
yang akan menggandeng tanganku lagi untuk menuju ujung jalan yang lain”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar