Senin, 10 Maret 2014

Tak Lagi KITA. .


Mata ini hampir terpejam ketika tak sengaja menengok keluar jendela, dan diatas sana aku melihatnya, bulan yang terlihat berbentuk bulat sempurna terang benderang, dan tepat disampingnya ada 2 cahaya yang tercipta tak kalah terang seakan menemani sang bulan yang sendiri, iya . . 2 cahaya itu adalah bintang. Walaupun diatas sana ada banyak cahaya tapi bulan dan 2 bintang disampingnya itu seperti keindahan yang sesungguhnya.
Satu bintang terlihat sangat terang sehingga terlihat indah dan menarik diantara cahaya yang lain, sedangkan satu bintang lainnya padam, hampir tak terlihat tapi karena jarak yang dekat dengan 1 bintang yang bersinar terang dan cahaya bulan, bintang itu sedikit terlihat mempesona.
Rasa kantuk yang sedari tadi membujukku untuk segera menuju dunia mimpi kini menghilang, jelas ini bukan karena insomnia seperti yang biasa terjadi pada malam – malam sebelumnya karena memikirkan suatu hal. Tapi aku melihat keindahan alam, 3 mahluk alam yang mungkin sedang berbincang – bincang dan berbagi cerita itu.
“Kenapa hanya ada 2 bintang yang terlihat jelas disana” tiba-tiba batinku berbisik.
Aku rasa baru kali ini aku begitu antusias meperhatikan sesuatu, iya. . 3 mahluk alam itu
mengalihkan imajinasiku, membuat hati dan fikiran mulai sahut menyahut memberi tanya dan jawab dalam jiwa.
Aku jauhkan selimut yang telah menutup sebagian dari tubuhku, dan mulai melangkah menuju jendela dan membukanya. Semilir  angin tengah malam ini seakan menusuk kulitku dan membuat bulu ari ditangan serentak berdiri tanpa aba – aba.
Mataku hanya tertuju pada 3 mahluk alam itu. Apa ke-3 mahluk itu pernah menangis ? apa mereka pernah merasa galau atau sebatas menangis karena suatu hal yang menyakitkan ?. Lagi – lagi hanya pertanyaan bodoh yang bias kulontarkan.
Aku berfikir “ Mungkin akan sangat bahagia jika aku ada diantara ke-3 mahluk indah itu, mereka bebas memandang luasnya jagat raya ini. Mereka menerangi, memberi keindahan kepada dunia dan seisi alam lainnya”. Imajinasiku tak berhenti untuk berhayal.
Aku terhanyut dalam lamunan tentang bulan dan bintang itu.
Sedetik . .
Dua detik. .
Satu menit. .
Sepuluh menit. .
Dan hampir setengah jam aku terhanyut dalam keindahannya, tapi tidak berlanjut untuk detik berikutnya, lebih tepatnya detik setelah setengah jam yang lalu itu kini menusukku.
Menyadarkan lamunan tentang keindahan 3 mahluk alam itu.
“BINTANG”
Kata itu tak asing bagiku, itu hampir selalu kuucapkan. Tapi tidak untuk hari ini, hari dimana 2 bintang yang bersinar sangat terang itu saling menjauh.
Aku tertunduk, sesaat kemudian suasana indah yang setengah jam tadi kurasakan kini berganti menjadi satu alasan yang membuatku terbungkam diam dan tanpa kusadari kristal bening ini mulai membasahi kelopak mataku.
Ada satu hal yang baru kuingat, saat tadi kusadari aku melirik keluar jendela adalah saat aku terbangun, sinar diluar sana menusuk mataku dan mebuatku terbangun dari tidur panjangku sehari ini. Aku baru sadar sedari tadi pagi aku meamang tertidur, tepatnya setelah kemarin dia meninggalkanku, iya dia orang yang selama ini berbagi cerita tentang keindahan bintang memutuskan untuk pergi tanpa alasan. Dia tak menghiraukan tangisku yang mulai merujuk, bahkan dia pergi tanpa sedikitpun senyum untukku.
“Kenapa aku harus terbangun dan mengingat hal menyakitkan itu lagi”.
“Kenapa TUHAN tak menghilangkan fikiranku tentangnya”.
Hatiku mulai meronta, terisak dan seakan ada sebilah pedang yang langsung menusuk hati ini. Sesak, , aku merasa begitu sesak dan tak bias bernafas.

“Aku benci BINTANG dan aku tak ingin melihatnya lagi”

Seketika itu aku menengok keatas dan segera menutup jendela kamarku,tapi lagi – lagi aku menyadari bahwa sedari tadi tak ada 2 bintang disana. Hanya ada bulan dan satu bintang yang terlihat redup diatas sana.
Tangisku memecah keheningan malam, aku menangis (lagi), merintih kesakitan (lagi) dan kali ini rasanya ada sejuta voltase listrik yang menyerangku.
Aku tak bias berhenti menangis saat kusadari kini tak ada lagi KITA, hanya ada AKU dan KAMU.

Tak ada lagi 2 bintang bersinar terang disana, yang ada hanya satu bintang sendiri, redup dan tak terlihat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate