Mata ini hampir terpejam ketika tak sengaja
menengok keluar jendela, dan diatas sana aku melihatnya, bulan yang terlihat
berbentuk bulat sempurna terang benderang, dan tepat disampingnya ada 2 cahaya
yang tercipta tak kalah terang seakan menemani sang bulan yang sendiri, iya . .
2 cahaya itu adalah bintang. Walaupun diatas sana ada banyak cahaya tapi bulan
dan 2 bintang disampingnya itu seperti keindahan yang sesungguhnya.
Satu
bintang terlihat sangat terang sehingga terlihat indah dan menarik diantara
cahaya yang lain, sedangkan satu bintang lainnya padam, hampir tak terlihat
tapi karena jarak yang dekat dengan 1 bintang yang bersinar terang dan cahaya
bulan, bintang itu sedikit terlihat mempesona.
Rasa kantuk yang sedari tadi membujukku untuk
segera menuju dunia mimpi kini menghilang, jelas ini bukan karena insomnia
seperti yang biasa terjadi pada malam – malam sebelumnya karena memikirkan
suatu hal. Tapi aku melihat keindahan alam, 3 mahluk alam yang mungkin sedang
berbincang – bincang dan berbagi cerita itu.
“Kenapa
hanya ada 2 bintang yang terlihat jelas disana” tiba-tiba batinku berbisik.
Aku
rasa baru kali ini aku begitu antusias meperhatikan sesuatu, iya. . 3 mahluk
alam itu
mengalihkan imajinasiku, membuat hati dan fikiran mulai sahut menyahut memberi tanya dan jawab dalam jiwa.
mengalihkan imajinasiku, membuat hati dan fikiran mulai sahut menyahut memberi tanya dan jawab dalam jiwa.
Aku jauhkan selimut yang telah menutup sebagian
dari tubuhku, dan mulai melangkah menuju jendela dan membukanya. Semilir angin
tengah malam ini seakan menusuk kulitku dan membuat bulu ari ditangan serentak
berdiri tanpa aba – aba.
Mataku
hanya tertuju pada 3 mahluk alam itu. Apa
ke-3 mahluk itu pernah menangis ? apa mereka pernah merasa galau atau sebatas
menangis karena suatu hal yang menyakitkan ?. Lagi – lagi hanya pertanyaan
bodoh yang bias kulontarkan.
Aku
berfikir “ Mungkin akan sangat bahagia jika aku ada diantara ke-3 mahluk indah
itu, mereka bebas memandang luasnya jagat raya ini. Mereka menerangi, memberi
keindahan kepada dunia dan seisi alam lainnya”. Imajinasiku tak berhenti untuk
berhayal.
Aku terhanyut dalam lamunan tentang bulan dan bintang itu.
Aku terhanyut dalam lamunan tentang bulan dan bintang itu.
Sedetik
. .
Dua
detik. .
Satu
menit. .
Sepuluh
menit. .
Dan
hampir setengah jam aku terhanyut dalam keindahannya, tapi tidak berlanjut
untuk detik berikutnya, lebih tepatnya detik setelah setengah jam yang lalu itu
kini menusukku.
Menyadarkan
lamunan tentang keindahan 3 mahluk alam itu.
“BINTANG”
Kata
itu tak asing bagiku, itu hampir selalu kuucapkan. Tapi tidak untuk hari ini,
hari dimana 2 bintang yang bersinar sangat terang itu saling menjauh.
Aku tertunduk, sesaat kemudian suasana indah
yang setengah jam tadi kurasakan kini berganti menjadi satu alasan yang
membuatku terbungkam diam dan tanpa kusadari kristal bening ini mulai membasahi
kelopak mataku.
Ada satu hal yang baru kuingat, saat tadi
kusadari aku melirik keluar jendela adalah saat aku terbangun, sinar diluar
sana menusuk mataku dan mebuatku terbangun dari tidur panjangku sehari ini. Aku
baru sadar sedari tadi pagi aku meamang tertidur, tepatnya setelah kemarin dia
meninggalkanku, iya dia orang yang selama ini berbagi cerita tentang keindahan
bintang memutuskan untuk pergi tanpa alasan. Dia tak menghiraukan tangisku yang
mulai merujuk, bahkan dia pergi tanpa sedikitpun senyum untukku.
“Kenapa
aku harus terbangun dan mengingat hal menyakitkan itu lagi”.
“Kenapa
TUHAN tak menghilangkan fikiranku tentangnya”.
Hatiku
mulai meronta, terisak dan seakan ada sebilah pedang yang langsung menusuk hati
ini. Sesak, , aku merasa begitu sesak dan tak bias bernafas.
“Aku
benci BINTANG dan aku tak ingin melihatnya lagi”
Seketika itu aku menengok keatas dan segera
menutup jendela kamarku,tapi lagi – lagi aku menyadari bahwa sedari tadi tak
ada 2 bintang disana. Hanya ada bulan dan satu bintang yang terlihat redup
diatas sana.
Tangisku
memecah keheningan malam, aku menangis (lagi), merintih kesakitan (lagi) dan
kali ini rasanya ada sejuta voltase listrik yang menyerangku.
Aku
tak bias berhenti menangis saat kusadari kini tak ada lagi KITA, hanya ada AKU dan KAMU.
Tak
ada lagi 2 bintang bersinar terang disana, yang ada hanya satu bintang sendiri,
redup dan tak terlihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar