Kamis, 14 Mei 2015

Kamu yang Aku Lewatkan

                                                                                                                                                                  Haii. .
Selamat datang. .
Kamu ? Apa yang kamu lakukan disini (hati)?
Bagaimana kamu bisa berada disini (hati) ?
Apaa ?! Pendatang baruu ??
Bagaimana mungkin..

Setidaknya itulah beberapa tanya hati dan pikiran yang tidak aku mengerti.
Pendatang baru !

Orang baru ?

Kebahagiaan baru ?
Apa aku perlu menyapamu dengan senyuman manis serta kata - kata indah ? 
atau aku harus bertanya kenapa kamu hadir tanpa sepengetahuan hatiku.
Ohh.. atau bahkan aku harus menyapamu dengan lembut sekaligus bertanya kenapa kamu hadir ketika aku sedang mencoba berdiri sendiri ? Sepertinya begitu.

Kamu dengan tiba – tiba mengalihkan jiwa yang mungkin lelah dengan cara yang tidak terlihat nyata. Meski tanpa paksa, sepertinya kamu seseorang yang sangat berhati - hati dalam bertindak. Hanya dengan membuat rasa nyaman baru, kau bisa mengalihkan perasaan yang lama dan merebut semua perhatianku.
Setidaknya itu yang aku rasa.
            Aku : Bagaimana mungkin kamu bisa melakukannya ?
Kamu : Bagaimana mungkin kamu tak mengetahuinya ?
Aku : Apaaa ? kau gilaa ? mana mungkin aku mengetahuinya.
Kamu : Kenapa tidak ? aku bahkan berjalan dengan apa yang seharusnya kamu tahu, dan aku yakin kamu seharusnya mengerti.
Aku : Seharusnya ?? apa yang kamu bicarakan, aku tak mengerti.
Kamu : Bagaimana kamu akan mengerti, jika kamu seakan menjadi denial untuk dirimu sendiri. Terlalu egois untuk mengerti apa yang kamu inginkan saja. Setidaknya kamu merasa selalu ada aku yang mengikutimu, memperhatikan gerak setiap langkahmu.
Aku : Apa kamu bercerita tentang dirimu sendiri ?
Kamu : Tidak ! aku bercerita tentang kita, kamu dan aku. Aku harap memang hanya kita, bukan dia(mu) atau dia(ku) yang telah lalu.
Aku : Aku ? dia(mu) ? dia(ku) ? sepertinya kamu salah. Ohh apa mungkin aku yang terlalu berlebihan menikmati alam bawah sadarku.
Kamu : Heyy, kamu memang bodoh ! bahkan kamu tak bisa menyadari alam bawah sadar dan tidakmu ?
Dia merusak dandanan rambutku dan itu menyebalkan. Sangat.
Aku terdiam, mengeja dengan hati - hati setiap ucapannya.
Aku : Ini mimpi ? aaahh.. cepat bangunkan aku dari semua ini.
Kamu : Ternyata kamu benar - benar bodoh ! berhenti memperlihatkan kebodohanmu itu di depanku.
Aku : Apaa ? aku benar – benar tak mengerti, dan lagi – lagi kamu yang membuatku terlihat bodoh.
Hening. .
Aku : Aku rasa, aku tak mengetahui bagaimana caramu berjalan ke arahku
Kamu : Berhentilah berfikir tentangnya, dan kamu akan tahu caraku yang sebelumnya tidak kamu sadari.
Aku menatapnya, tepat di dua kornea hitam pekat matanya. Memperhatikan detile ukiran indah yang tergambar jelas disana, bukan hanya dalam hitungan detik tapi sangat lama aku menatapnya. Lalu dengan keadaan sadar aku berkata.
Aku : Aku mengenalmu, kamu. .
Kata – kataku menggantung diudara yang kurasa hening seketika.
Kamu : Yaa, kamu benar. Aku adalah hati yang selama ini kamu cari, aku adalah bahagia yang sekian lama membiarkanmu bercengkrama dengan bahagia yang semu. Dan kini aku hadir, menjadi bahagia yang sebenarnya. Kamu tahu ? aku fikir kamu benar – benar bahagia bersamanya, dengan melihat tawa dan senyum yang kamu ciptakan ketika sedang bersamanya aku ragu jika aku adalah separuh sempurnamu, aku bahkan sudah mencoba pergi. Tapi sayang, hati ini kekeuh tertuju untuk menyempurnakan hatimu.
Air mataku tak terbendung lagi, ia mengalir perlahan tapi mampu membanjiri pipiku. Dadaku sesak, mulutku tak bisa mengucapkan apapun. Hanya hati yang mulai terbuka dan jiwa yang mulai terasa panas karena mendengarnya berkata.
Kamu : Berhentilah memikirkan bagaimana caraku berada disini, kamu hanya perlu mempererat jemarimu dalam jemariku, dan aku akan tetap bersamamu. Menggantikan bahagia semu yang kamu pertahankan selama ini dengan tetap membuatmu tersenyum dengan apa yang telah aku siapkan untukmu. Apa kamu siap ? mengukir senyum baru untukku, oh maksudku untuk aku dan kamu.
Aku : Apa aku bisa ?
Dia menatapku dengan lembut, membasuh air mata yang masih tetap keluar dan meyakinkanku.
Kamu : Aku mungkin terlambat menyelamatkanmu, membiarkan sayapmu patah separah ini. Dengarkan aku, didetik pertama kamu menyadari kehadiranku aku telah berjanji untuk menjadi sayap – sayapmu yang patah. Aku akan disampingmu untuk mengobati lukamu, dan tidak akan aku biarkan dia atau seseorang yang lain melukis luka yang sama untuk kedua kalinya.
Tangannya mulai merengkuhku, meletakkan kepalaku tepat di dadanya. Air mataku membanjiri kemeja biru miliknya, menegaskan bahwa aku benar – benar telah mengenalnya, menemukan sebagian hatiku yang dulu aku kira berada pada sosoknya. Tapi aku salah, aku telah melewatkan satu langkah yang sebenarnya. Dan bodohnya aku telah sangat lama bertahan dalam luka yang membuat sayapku patah.
Aku : Apa kamu akan pergi lagi setelah ini, apa kamu akan meninggalkan aku lagi dengan sengaja nanti ?
Kamu : Tidak ! tak akan aku biarkan sayapmu patah lagi, cukup melihatmu berdarah – darah karenanya kemarin. Itu akan jadi yang terakhir aku melihatmu menangis. Berhenti tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, kamu hanya perlu menyiapkan senyum dengan apa yang kita buat nanti.
Aku : Dan kamu, berhenti berkata berlebihan seperti itu, karena aku tak ingin kamu berkata seindah itu. Cukup buktikan apapun hal yang membuatku percaya dan tidak akan pergi darimu
Senyumku mengembang, dan ini menjadi senyum pertama di musim yang sebelumnya terdapat luka. Dia tertawa dengan terus mengacak rambutku, dan aku bahagia dengan kesadaranku atas kamu yang telah aku lewatkan.

Dear Bahagia yang semu : “Jangan salahkan aku atas kepergianku, karena melewatkan waktu bersamamu seperti luka yang sengaja aku pertahankan dalam waktu yang panjang. Yang aku kira kamu adalah separuh aku yang akan menyempurnakan. Tapi aku salah, kamu hanya seseorang yang dengan sengaja membiarkanku tetap bertahan dalam luka yang kamu ciptakan dengan sepengetahuan sadarmu. Dan itu kesalahan yang mungkin belum kamu sadari”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate