Selamat
datang. .
Kamu
? Apa yang kamu lakukan disini (hati)?
Bagaimana
kamu bisa berada disini (hati) ?
Apaa
?! Pendatang baruu ??
Bagaimana
mungkin..
Setidaknya
itulah beberapa tanya hati dan pikiran yang tidak aku mengerti.
Pendatang
baru !
Orang
baru ?
Kebahagiaan
baru ?
Apa
aku perlu menyapamu dengan senyuman manis serta kata - kata indah ?
atau aku harus bertanya kenapa kamu hadir tanpa sepengetahuan hatiku.
atau aku harus bertanya kenapa kamu hadir tanpa sepengetahuan hatiku.
Ohh..
atau bahkan aku harus menyapamu dengan lembut sekaligus bertanya kenapa kamu
hadir ketika aku sedang mencoba berdiri sendiri ? Sepertinya begitu.
Kamu
dengan tiba – tiba mengalihkan jiwa yang mungkin lelah dengan cara yang tidak
terlihat nyata. Meski tanpa paksa, sepertinya kamu seseorang yang sangat
berhati - hati dalam bertindak. Hanya dengan membuat rasa nyaman baru, kau bisa
mengalihkan perasaan yang lama dan merebut semua perhatianku.
Setidaknya
itu yang aku rasa.
Kamu : Bagaimana
mungkin kamu tak mengetahuinya ?
Aku : Apaaa ? kau
gilaa ? mana mungkin aku mengetahuinya.
Kamu : Kenapa tidak
? aku bahkan berjalan dengan apa yang seharusnya kamu tahu, dan aku yakin kamu
seharusnya mengerti.
Aku : Seharusnya ??
apa yang kamu bicarakan, aku tak mengerti.
Kamu : Bagaimana
kamu akan mengerti, jika kamu seakan menjadi denial untuk dirimu sendiri.
Terlalu egois untuk mengerti apa yang kamu inginkan saja. Setidaknya kamu
merasa selalu ada aku yang mengikutimu, memperhatikan gerak setiap langkahmu.
Aku : Apa kamu
bercerita tentang dirimu sendiri ?
Kamu : Tidak ! aku
bercerita tentang kita, kamu dan aku. Aku harap memang hanya kita, bukan
dia(mu) atau dia(ku) yang telah lalu.
Aku : Aku ? dia(mu)
? dia(ku) ? sepertinya kamu salah. Ohh apa mungkin aku yang terlalu berlebihan
menikmati alam bawah sadarku.
Kamu : Heyy, kamu
memang bodoh ! bahkan kamu tak bisa menyadari alam bawah sadar dan tidakmu ?
Dia
merusak dandanan rambutku dan itu menyebalkan. Sangat.
Aku
terdiam, mengeja dengan hati - hati setiap ucapannya.
Aku : Ini mimpi ?
aaahh.. cepat bangunkan aku dari semua ini.
Kamu : Ternyata kamu
benar - benar bodoh ! berhenti memperlihatkan kebodohanmu itu di depanku.
Aku : Apaa ? aku benar
– benar tak mengerti, dan lagi – lagi kamu yang membuatku terlihat bodoh.
Hening.
.
Aku : Aku rasa, aku
tak mengetahui bagaimana caramu berjalan ke arahku
Kamu : Berhentilah
berfikir tentangnya, dan kamu akan tahu caraku yang sebelumnya tidak kamu
sadari.
Aku menatapnya, tepat di dua kornea
hitam pekat matanya. Memperhatikan detile ukiran indah yang tergambar jelas
disana, bukan hanya dalam hitungan detik tapi sangat lama aku menatapnya. Lalu dengan
keadaan sadar aku berkata.
Aku : Aku
mengenalmu, kamu. .
Kata
– kataku menggantung diudara yang kurasa hening seketika.
Kamu : Yaa, kamu
benar. Aku adalah hati yang selama ini kamu cari, aku adalah bahagia yang
sekian lama membiarkanmu bercengkrama dengan bahagia yang semu. Dan kini aku
hadir, menjadi bahagia yang sebenarnya. Kamu tahu ? aku fikir kamu benar –
benar bahagia bersamanya, dengan melihat tawa dan senyum yang kamu ciptakan
ketika sedang bersamanya aku ragu jika aku adalah separuh sempurnamu, aku
bahkan sudah mencoba pergi. Tapi sayang, hati ini kekeuh tertuju untuk
menyempurnakan hatimu.
Air
mataku tak terbendung lagi, ia mengalir perlahan tapi mampu membanjiri pipiku. Dadaku
sesak, mulutku tak bisa mengucapkan apapun. Hanya hati yang mulai terbuka dan
jiwa yang mulai terasa panas karena mendengarnya berkata.
Kamu : Berhentilah
memikirkan bagaimana caraku berada disini, kamu hanya perlu mempererat jemarimu
dalam jemariku, dan aku akan tetap bersamamu. Menggantikan bahagia semu yang
kamu pertahankan selama ini dengan tetap membuatmu tersenyum dengan apa yang
telah aku siapkan untukmu. Apa kamu siap ? mengukir senyum baru untukku, oh
maksudku untuk aku dan kamu.
Aku : Apa aku bisa ?
Dia
menatapku dengan lembut, membasuh air mata yang masih tetap keluar dan
meyakinkanku.
Kamu : Aku mungkin
terlambat menyelamatkanmu, membiarkan sayapmu patah separah ini. Dengarkan aku,
didetik pertama kamu menyadari kehadiranku aku telah berjanji untuk menjadi
sayap – sayapmu yang patah. Aku akan disampingmu untuk mengobati lukamu, dan
tidak akan aku biarkan dia atau seseorang yang lain melukis luka yang sama untuk
kedua kalinya.
Tangannya
mulai merengkuhku, meletakkan kepalaku tepat di dadanya. Air mataku membanjiri
kemeja biru miliknya, menegaskan bahwa aku benar – benar telah mengenalnya,
menemukan sebagian hatiku yang dulu aku kira berada pada sosoknya. Tapi aku
salah, aku telah melewatkan satu langkah yang sebenarnya. Dan bodohnya aku
telah sangat lama bertahan dalam luka yang membuat sayapku patah.
Aku : Apa kamu akan
pergi lagi setelah ini, apa kamu akan meninggalkan aku lagi dengan sengaja
nanti ?
Kamu : Tidak ! tak
akan aku biarkan sayapmu patah lagi, cukup melihatmu berdarah – darah karenanya
kemarin. Itu akan jadi yang terakhir aku melihatmu menangis. Berhenti tidak percaya
dengan apa yang aku ucapkan, kamu hanya perlu menyiapkan senyum dengan apa yang
kita buat nanti.
Aku : Dan kamu,
berhenti berkata berlebihan seperti itu, karena aku tak ingin kamu berkata
seindah itu. Cukup buktikan apapun hal yang membuatku percaya dan tidak akan
pergi darimu
Senyumku
mengembang, dan ini menjadi senyum pertama di musim yang sebelumnya terdapat
luka. Dia tertawa dengan terus mengacak rambutku, dan aku bahagia dengan
kesadaranku atas kamu yang telah aku lewatkan.
Dear Bahagia yang semu : “Jangan salahkan aku atas kepergianku,
karena melewatkan waktu bersamamu seperti luka yang sengaja aku pertahankan
dalam waktu yang panjang. Yang aku kira kamu adalah separuh aku yang akan
menyempurnakan. Tapi aku salah, kamu hanya seseorang yang dengan sengaja membiarkanku
tetap bertahan dalam luka yang kamu ciptakan dengan sepengetahuan sadarmu. Dan itu
kesalahan yang mungkin belum kamu sadari”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar